Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,19% hingga menyentuh level 5.986 pada penutupan perdagangan Selasa (7/7).
Lonjakan indeks ini didorong oleh dominasi sentimen positif yang membuat 430 saham berhasil melaju di zona hijau sepanjang sesi perdagangan.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi harian mencapai Rp 10,39 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 22,36 miliar saham.
Frekuensi transaksi yang terjadi di pasar modal hari ini tercatat sebanyak 1,67 ribu kali dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp 10.489 triliun.
Kinerja impresif ini didukung oleh sepuluh dari sebelas sektor yang mencatat pertumbuhan positif di papan perdagangan.
Sektor properti menjadi primadona dengan kenaikan tertinggi mencapai 3,23% seiring dengan apresiasi harga saham emiten terkait.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menjadi salah satu pendorong sektor ini setelah harga sahamnya melonjak 13,45% ke level Rp 135.
Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa kenaikan IHSG hari ini terjadi di tengah volume dan nilai transaksi yang masih cenderung sepi.
Dia menambahkan bahwa reli tersebut ditopang oleh sentimen positif dari usulan DPR untuk memangkas anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027 serta kenaikan tipis cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026.
Posisi cadangan devisa tercatat meningkat menjadi US$ 145,6 miliar dari posisi bulan Mei 2026 yang berada di angka US$ 144,9 miliar.
Peningkatan ini menjadi indikator positif bagi stabilitas ekonomi setelah cadangan devisa sempat menyentuh titik terendah dalam dua tahun terakhir.
Sentimen tersebut turut memberikan dampak pada nilai tukar rupiah yang ditutup menguat tipis 0,08% ke level Rp 17.980 per dolar AS.
Secara teknikal, indeks dinilai telah bergerak di atas level MA20 dengan indikator MACD yang masih memberikan sinyal beli bagi para investor.
Ia memproyeksikan indeks memiliki peluang besar untuk melanjutkan tren positif dan menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan esok hari.
“Namun perlu diwaspadai potensi pullback jangka pendek karena profit taking,” kata dia dikutip dari Phintraco Sekuritas pada Selasa (7/7).
Sementara itu, pergerakan pasar modal di Asia cenderung kontradiktif dengan kondisi domestik karena mayoritas bursa regional ditutup di zona merah.
Indeks Hang Seng tercatat melemah 0,51%, Shanghai Composite terkoreksi 1,26%, dan indeks Nikkei turun tajam sebesar 2,12%.
Kondisi berbeda ditunjukkan oleh indeks Straits Times yang justru mampu mencatatkan kenaikan sebesar 1,57% di akhir sesi.
Di pasar domestik, saham top gainers dipimpin oleh PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang naik 9,47%, PT Sentul City Tbk (BKSL) naik 9,84%, dan PT PP Presisi Tbk (PPRE) naik 9,80%.
Di sisi lain, daftar top losers diisi oleh PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) yang turun 9,30%, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 2,88%, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 2,86%.







