Ecozone

IHSG Terkoreksi, Jumlah Investor Pasar Modal Justru Melonjak 42 Persen

34
×

IHSG Terkoreksi, Jumlah Investor Pasar Modal Justru Melonjak 42 Persen

Sebarkan artikel ini
96fbd4f93d0fe2afc18c5184e2b1851d.jpg
96fbd4f93d0fe2afc18c5184e2b1851d.jpg

Jakarta, Fenesia.com – Pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia yang mencapai 42,22 persen secara tahun berjalan berbanding terbalik dengan performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi tajam hingga 34,74 persen.

Fenomena ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat untuk masuk ke pasar modal meski di saat bersamaan pasar sedang menghadapi volatilitas yang cukup tinggi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investor pasar modal kini telah menyentuh angka 28,96 juta Single Investor Identification (SID).

“Jumlah investor di pasar modal melanjutkan tren peningkatan secara signifikan. Tercatat penambahan sebanyak 1,21 juta investor (mtm) pada Juni 2026, sehingga total jumlah investor telah mencapai 28,96 juta atau tumbuh 42,22 persen secara year to date,” ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2026 yang digelar secara daring, Selasa (7/7/2026).

Pihak otoritas menilai kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase konsolidasi yang berat.

“Pasar saham domestik pada Juni 2026 masih berada pada fase konsolidasi. Hal ini dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global, persepsi investor atas kondisi dan kebijakan domestik, serta adanya penyesuaian atau rebalancing portofolio investor,” kata dia.

Data menunjukkan IHSG ditutup di level 5.643,19 pada akhir Juni 2026, turun 7,9 persen secara bulanan.

Meski begitu, ia optimistis tekanan di pasar akan melandai.

“Namun, memasuki awal Juli 2026 ini, tekanan di pasar terpantau mereda dan akan terus kami cermati perkembangannya ke depan,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar obligasi menunjukkan dinamika yang berbeda dengan minat asing yang masih cukup kuat di Surat Berharga Negara (SBN).

Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 22,43 triliun di pasar SBN sepanjang Juni 2026.

Kondisi ini bertolak belakang dengan pasar saham di mana investor asing justru membukukan net sell senilai Rp 19,63 triliun.

Sementara itu, industri reksadana mengalami tekanan berupa net redemption senilai Rp 23,75 triliun pada bulan yang sama.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pun tercatat turun 4,79 persen secara bulanan.

Di tengah pelemahan indeks, korporasi tetap aktif melakukan penggalangan dana melalui pasar modal dengan nilai total mencapai Rp 112,67 triliun.

Ia menambahkan bahwa masih ada 11 rencana penawaran umum yang saat ini berada dalam antrean atau pipeline.

Terkait penilaian internasional, pasar modal Indonesia baru saja menerima hasil evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Status Indonesia dipastikan tetap bertahan dalam kategori emerging markets.

Dalam tinjauan aksesibilitas pasar, sebanyak 16 dari 18 kriteria dinyatakan tidak memiliki masalah signifikan.

“Sedangkan dua kriteria dipandang masih memerlukan perbaikan lebih lanjut. Hal ini akan menjadi bagian dari evaluasi yang konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi yang sedang dijalankan,” katanya.

Pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kredibilitas pasar domestik.

“Selain itu, komitmen untuk melanjutkan engagement dengan global index providers, investor global, serta seluruh pihak terkait terus dilakukan dalam upaya meningkatkan kredibilitas, integritas, dan investability pasar modal domestik,” lanjutnya.