BeritaPemerintahan

Menkomdigi Minta Masyarakat Lebih Waspada Saat Berinteraksi di Ruang Digital

27
×

Menkomdigi Minta Masyarakat Lebih Waspada Saat Berinteraksi di Ruang Digital

Sebarkan artikel ini

Pengguna diminta tidak ragu menggunakan fitur pelaporan, pemblokiran akun, hingga berbagi lokasi dengan kontak tepercaya jika menemukan perilaku mencurigakan.

Menkomdigi Meutya Hafid dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (18/05/2026).
Menkomdigi Meutya Hafid dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (18/05/2026).

Jakarta – Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra saat berinteraksi di ruang digital.

Imbauan ini disampaikan menyusul kasus dugaan penyekapan dan kekerasan yang kini tengah diusut aparat penegak hukum di Bandung, yang diduga melibatkan penggunaan aplikasi kencan.

Meutya menegaskan, peristiwa tersebut menjadi alarm bagi masyarakat agar lebih bijak dalam membangun relasi melalui platform digital.

Menurutnya, kemudahan teknologi yang ditawarkan saat ini kerap disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan manipulasi hingga tindak kriminal.

“Kasus dugaan penyekapan dan kekerasan yang sedang ditangani aparat menjadi keprihatinan kita bersama. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa interaksi yang berawal dari ruang digital, termasuk melalui aplikasi kencan berbasis lokasi, harus selalu disertai kehati-hatian dan literasi digital yang baik,” ujar Meutya dalam siaran pers, Sabtu (27/6/2026).

Untuk meminimalisir risiko, Meutya membagikan tiga langkah preventif bagi pengguna media sosial dan aplikasi kencan. Pertama, ia meminta masyarakat agar tidak mudah percaya dengan identitas atau informasi yang ditampilkan di dunia maya.

“Jangan mudah percaya pada apa yang ditampilkan di media sosial. Jangan tertipu. Apa yang kita lihat dan baca di media sosial, tidak terkecuali di aplikasi kencan seperti Tinder, belum tentu benar, bahkan bisa jadi sebaliknya. Mungkin saja semua itu hanya ilusi algoritma,” tegasnya.

Kedua, Meutya menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi. Pengguna diimbau untuk tidak membagikan informasi sensitif, seperti akses akun, lokasi *real-time*, maupun data pribadi lainnya yang berpotensi disalahgunakan pelaku kejahatan.

Terakhir, ia mendorong masyarakat untuk memaksimalkan fitur keamanan yang tersedia di setiap platform.

Pengguna diminta tidak ragu menggunakan fitur pelaporan, pemblokiran akun, hingga berbagi lokasi dengan kontak tepercaya jika menemukan perilaku mencurigakan.

“Segera hentikan interaksi apabila menemukan perilaku yang mencurigakan,” imbuhnya.

Meutya menambahkan, peningkatan literasi digital adalah kunci utama dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat. Ia berharap, kolaborasi antara platform yang bertanggung jawab, pengawasan pemerintah, dan kecakapan masyarakat dapat mewujudkan ruang digital yang aman bagi semua orang.