Berita

Menelusuri Jejak Panjang LSD dari Eksperimen Medis hingga Pelarangan Global WHO

16
×

Menelusuri Jejak Panjang LSD dari Eksperimen Medis hingga Pelarangan Global WHO

Sebarkan artikel ini
perjalanan-sejarah-lsd:-dari-zat-medis-hingga-dilarang-who
perjalanan sejarah lsd: dari zat medis hingga dilarang who

Jakarta – Narkotika jenis LSD (lysergic acid diethylamide) memang tidak sepopuler ganja, namun zat ini memiliki jejak sejarah panjang yang melibatkan tokoh-tokoh besar dunia, seperti musisi John Lennon hingga pendiri Apple, Steve Jobs.

Zat kontroversial ini pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh biokimiawan Albert Hofmann di sebuah laboratorium di Swiss pada April 1943. Hofmann mendapati efek zat tersebut setelah meminum air yang telah dicampur dengan beberapa mikrogram hasil sintesisnya.

Sekitar 45 menit kemudian, Hofmann mulai merasakan pusing hebat, gangguan penglihatan, hingga dorongan untuk tertawa. Ia pun meminta asistennya memanggil dokter dan memutuskan pulang dengan mengayuh sepeda.

Dalam perjalanannya, ia merasa pemandangan jalanan berubah layaknya lukisan Salvador Dali yang bergerak, tuturnya.

Meski dokter menyatakan kondisi fisiknya tetap normal, Hofmann sempat mengalami kekacauan mental dan merasa cemas bahwa pikirannya telah rusak secara permanen, ujarnya.

Setelah Hofmann memublikasikan pengalamannya, Sandoz Pharmaceutical Company mulai mendistribusikan LSD kepada para peneliti di seluruh dunia. Dosis 25-50 mikrogram saja sudah cukup untuk memicu halusinasi.

Erika Dyck dalam bukunya “Acid Trip: The History of LSD – the Original Psychedelic Drug” menggambarkan zat ini sebagai substansi tanpa warna dan aroma yang mampu membuat penggunanya kehilangan akal sehat.

Memasuki dekade 1950-an, LSD menjadi bagian dari optimisme perkembangan psikofarmakologi. Thomas Ban, seorang psikofarmakolog awal Amerika Utara, menyebut riset obat-obatan untuk kesehatan mental pada masa itu membawa psikiatri ke era modern, terangnya.

Publikasi ilmiah mengenai LSD pun meningkat tajam, dari 100 artikel pada 1951 menjadi lebih dari 1.000 artikel pada 1961 yang tersebar dalam berbagai bahasa.

Salah satu tokoh sentral dalam riset ini adalah psikiater Humphry Osmond yang pindah ke Kanada pada 1951. Bersama timnya, ia menyimpulkan bahwa LSD mampu menciptakan kondisi psikosis sementara yang secara teoritis dianggap dapat membalikkan skizofrenia melalui metode kimiawi, paparnya.

Eksperimen Osmond menarik perhatian penulis Aldous Huxley yang kemudian menjadi subjek uji coba. Osmond mengaku sempat merasa gugup karena tidak ingin dianggap sebagai pihak yang membuat Huxley kehilangan akal sehat, ungkapnya.

Namun, eksperimen tersebut justru menghasilkan esai berjudul The Doors of Perception pada 1954 yang memuat pengalaman Huxley dari sudut pandang filsafat, puisi, hingga agama.

Pada 1956, Osmond dan Huxley berkolaborasi untuk merumuskan istilah yang tepat bagi pengalaman akibat LSD. Setelah saling bertukar usulan, mereka sepakat menggunakan istilah “psychedelic”, sebutnya.

Kata tersebut diambil dari bahasa Yunani kuno, yakni psyche yang berarti pikiran dan delos yang berarti termanifestasi, jelasnya.

Tim Saskatchewan kemudian beralih meneliti potensi LSD untuk terapi alkoholisme. Bekerja sama dengan Alcoholics Anonymous, mereka memberikan dosis besar antara 200 hingga 1.500 mikrogram dalam pengawasan ketat.

Mereka mengklaim tingkat pemulihan pasien melalui metode tersebut mencapai di atas 50 persen. Terapi ini bertujuan mensimulasikan pengalaman psikologis berat agar pasien terhindar dari delirium tremens yang fatal saat berhenti mengonsumsi alkohol, imbuhnya.

Psikolog Duncan Blewett berpendapat bahwa LSD mampu membantu manusia melihat nilai dan perilaku dirinya dari perspektif baru, menurutnya.

Namun, klaim tersebut tetap menuai skeptisisme dari kolega lain karena dianggap sulit untuk direplikasi dalam uji coba terkontrol.

Penggunaan LSD akhirnya dihentikan bukan karena alasan ilmiah, melainkan tekanan politik dan sosial. Menjelang pertengahan 1960-an, zat ini marak digunakan di luar konteks klinis sebagai “acid” oleh generasi pemberontak.

Kemudahan sintesis membuat versi rumahan beredar luas dengan berbagai nama jalanan, mulai dari Blotter Acid, Dots, Mellow Yellow, hingga Window Pane.

Pemberitaan media kala itu terbelah, antara menyoroti tindakan pemberontakan kaum muda terhadap otoritas hingga menghubungkannya dengan tindak kekerasan, pembunuhan, dan bunuh diri.

Pada 1968, WHO mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk melarang zat tersebut, yang kemudian mengakhiri seluruh eksperimen LSD secara legal, pungkasnya.

Terkait efeknya bagi tubuh, Badan Penegakan Narkotika Amerika Serikat (DEA) menjelaskan bahwa pengguna LSD bisa mengalami pupil melebar, kenaikan suhu tubuh, serta peningkatan tekanan darah dan detak jantung.

Selain itu, pengguna dapat mengalami berkeringat, kehilangan nafsu makan, insomnia, mulut kering, dan tubuh gemetar.

Selama di bawah pengaruh zat tersebut, pengguna akan mengalami distorsi persepsi terkait waktu, ruang, bentuk, ukuran, warna, hingga suara.

DEA menambahkan bahwa pengguna juga berisiko tinggi mengalami kecemasan serta depresi akut setelah efek zat mereda, dia mengatakan.

Bahkan muncul risiko Hallucinogen Persisting Perception Disorder, yaitu kondisi di mana pengguna mengalami kembali aspek pengalaman penggunaan obat atau flashback selama berhari-hari hingga berbulan-bulan setelah konsumsi terakhir, tegasnya.