Jakarta – Bursa saham di kawasan Asia mengawali perdagangan awal pekan pada Senin (22/6/2026) dengan pergerakan yang cenderung beragam. Sejumlah indeks utama menunjukkan fluktuasi di tengah sentimen geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 08.18 WIB, indeks Nikkei 225 di Jepang mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1.050,75 poin atau 1,47 persen ke level 72.301,38. Tren positif juga diikuti oleh indeks Taiex yang naik 982,15 poin atau 2,12 persen ke posisi 4.7498,55, serta indeks Kospi yang terapresiasi 143,72 poin atau 1,50 persen ke level 9.188,62. Sementara itu, indeks ASX 200 di Australia mencatatkan kenaikan tipis sebesar 7,13 poin atau 0,08 persen ke posisi 8.835,80.
Di sisi lain, beberapa bursa regional justru berada di zona merah. Indeks Hang Seng melemah 113,05 poin atau 0,47 persen ke level 23.811,76. Kondisi serupa terjadi pada indeks Straits Times yang terkoreksi 14,77 poin atau 0,25 persen ke level 5.179,09, serta FTSE Malaysia yang tertekan 4,60 poin atau 0,32 persen ke level 1.706,61.
Variasi pergerakan indeks ini dipicu oleh laporan media Iran yang menyatakan bahwa pihak mereka telah menghentikan pembicaraan. Keputusan tersebut diambil setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan ancaman untuk melancarkan serangan terhadap Iran apabila kelompok Hizbullah terus melancarkan serangan mereka.
Menanggapi dinamika tersebut, ahli strategi di Pepperstone Group, Di Lin Wu, menilai bahwa pelaku pasar saat ini memandang kesepakatan terkait Iran berada dalam kondisi yang rapuh. Meskipun demikian, menurutnya, kondisi tersebut belum dianggap cukup kritis untuk memicu penyesuaian harga risiko geopolitik secara agresif pada tahap ini.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tersebut juga turut mempengaruhi pasar komoditas, di mana harga emas dilaporkan mengalami penurunan pada perdagangan Senin pagi. Faktor lain yang membayangi sentimen pasar adalah nada hawkish dari kebijakan The Fed yang terus dipantau oleh para investor global.
Selain isu geopolitik, fokus utama para pelaku pasar di Asia saat ini tertuju pada pengumuman suku bunga China. Data tersebut dinilai krusial karena akan memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Pasar secara luas memperkirakan bahwa suku bunga pinjaman utama China tidak akan mengalami perubahan. Analis menilai, dukungan dari sektor ekspor yang tetap kuat serta tren booming kecerdasan buatan atau AI di China saat ini mampu mengurangi urgensi bagi pemerintah setempat untuk meningkatkan stimulus tambahan bagi perekonomian nasional mereka. Investor kini menunggu kepastian kebijakan moneter tersebut untuk menentukan arah portofolio mereka di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung hingga awal pekan ini.







