Jakarta – Nama Vicky Prasetyo kembali menjadi sorotan publik setelah dilaporkan ke Polda Jawa Timur atas dugaan penipuan dan penggelapan terkait pengadaan perangkat audio atau sound system senilai Rp213 juta.
Laporan itu diajukan oleh pengusaha asal Surabaya, Fajar Ramadhon, yang mengaku mengalami kerugian setelah memenuhi permintaan pengadaan perlengkapan audio untuk usaha milik Vicky.
Selain Vicky Prasetyo, perempuan bernama Fiona Khairunisa alias Viona Fachrunisa juga dilaporkan dalam perkara yang sama. Laporan resmi itu tercatat pada 11 Juni 2026.
Fajar menjelaskan, awal perkenalannya dengan Vicky berlangsung dalam suasana akrab. Ia mengaku pertama kali mengenal mantan suami Kalina Ocktaranny itu saat mengundangnya makan bersama di restoran miliknya di Surabaya karena mengidolakan sosok Vicky.
Seiring waktu, komunikasi keduanya disebut semakin intens. Dari situ, Vicky kemudian menghubungi Fajar untuk membahas kebutuhan perangkat audio bagi sebuah kedai kopi bernama Kopi Revolusi yang berada di Semarang.
“Mas Vicky WA sama saya, mau bangun kopi yang dinamakan Kopi Revolusi yang ada di Semarang. Terus minta penawaran sama saya. Saya hitungkan sesuai anggaran dan kebutuhan yang diminta,” kata Fajar dalam wawancara daring, dikutip Selasa 16 Juni 2026.
Setelah menerima permintaan itu, Fajar menyusun penawaran sesuai kebutuhan. Vicky bersama timnya kemudian datang langsung ke Kapten Audio Surabaya untuk melihat berbagai perangkat yang ditawarkan.
Setelah memilih perlengkapan yang dianggap sesuai, proses pengiriman hingga pemasangan sound system dilakukan di lokasi usaha.
Fajar mengatakan sebelum instalasi dilakukan, dirinya sudah mendapat kesepakatan mengenai mekanisme pembayaran. Kesepakatan itu, menurutnya, disampaikan oleh Fiona.
“Katanya pembayarannya, barang datang saya dibayar 50 persen, sisanya dicicil tiga bulan. Saya percaya karena hubungan kami baik,” ujarnya.
Karena merasa sudah memiliki hubungan yang baik dengan Vicky, Fajar mengaku tidak menaruh curiga dan tetap melanjutkan proses pemasangan seluruh perangkat audio.
Namun, persoalan mulai muncul setelah seluruh peralatan selesai dipasang. Uang muka yang dijanjikan disebut tak kunjung diterima.
Fajar mengaku berkali-kali menanyakan kepastian pembayaran, tetapi selalu memperoleh jawaban yang memintanya bersabar. “Saya tanya masalah DP, dijawab nanti dulu. Saya pikir mungkin karena baru buka usaha, mereka lagi sibuk. Saya kasih waktu, tapi sampai sekarang belum ada pembayaran sama sekali,” katanya.







