Jakarta – Sucor Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki potensi untuk melanjutkan tren penguatan dalam beberapa bulan ke depan.
Optimisme ini tetap terjaga meskipun pasar modal domestik saat ini masih berada di bawah bayang-bayang berbagai sentimen negatif yang mempengaruhi sentimen investor.
Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, menyatakan bahwa berdasarkan analisis teknikal, IHSG berpeluang bergerak menuju level 6.700.
Kendati demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi jangka pendek sebagai bagian dari fase konsolidasi pasar yang sehat setelah mengalami reli dalam beberapa hari terakhir.
Dalam paparannya pada acara Stock Idea Series, Sabtu (13/6/2026), Reyhan mengidentifikasi level 6.000 sebagai resistance psikologis krusial yang harus dicermati oleh para pelaku pasar.
Sementara itu, untuk batas bawah atau support yang kuat, ia menetapkan area di sekitar level 5.512.
Menurut Reyhan, selama level support tersebut tetap terjaga, peluang bagi IHSG untuk mencatatkan penguatan lanjutan masih terbuka lebar.
Ia menambahkan sektor komoditas saat ini menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk diperhatikan oleh investor di tengah dinamika ekonomi global yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Reyhan menyarankan investor untuk bersikap lebih selektif terhadap sektor perbankan.
Hal tersebut didasari oleh kenaikan harga yang cukup signifikan pada sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar dalam kurun waktu terakhir, sehingga perlu ada kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi.
Senada dengan pandangan tersebut, Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, menilai tekanan yang menekan pasar saham Indonesia saat ini lebih didorong oleh faktor krisis kepercayaan daripada permasalahan fundamental ekonomi nasional. Fenomena ini tercermin dari pelemahan pasar yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.
Hendry menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh akumulasi kekhawatiran investor terhadap berbagai isu.
Di antaranya mencakup penurunan outlook rating Indonesia, potensi perubahan status Indonesia dalam indeks global, serta ketidakpastian kondisi ekonomi dan geopolitik di level dunia.
Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah indikator makro ekonomi mulai menunjukkan sinyal perbaikan.
Langkah agresif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui kenaikan suku bunga, serta komitmen pemerintah dalam mempertahankan kedisiplinan fiskal, menjadi faktor kunci dalam menahan laju tekanan pasar.
Hendry menambahkan bahwa investor perlu memantau beberapa indikator utama dalam waktu dekat untuk menentukan arah investasi.
Indikator tersebut meliputi stabilitas nilai tukar rupiah, fluktuasi imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN), serta arus masuk dan keluar dana asing di pasar modal Indonesia.







