Berita

AS Lancarkan Serangan Balasan ke Iran Usai Helikopter Apache Jatuh

16
×

AS Lancarkan Serangan Balasan ke Iran Usai Helikopter Apache Jatuh

Sebarkan artikel ini
intip-spek-gahar-apache,-helikopter-as-yang-jatuh-di-selat-hormuz
intip spek gahar apache, helikopter as yang jatuh di selat hormuz

Jakarta – Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan balasan ke Iran pada Selasa (9/6) sore waktu setempat. Langkah tegas ini diambil menyusul insiden jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS di kawasan Selat Hormuz.

Meski penyebab pasti kecelakaan tersebut masih dalam penyelidikan, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menuding Iran sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas peristiwa itu.

Dalam wawancaranya dengan ABC News, Presiden Trump menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan respons yang keras terhadap insiden yang menimpa alutsista mereka.

Ia menekankan bahwa tindakan balasan yang diambil harus bersifat sangat kuat dan dahsyat.

Helikopter yang jatuh tersebut diidentifikasi sebagai varian dari keluarga AH-64 Apache produksi Boeing. Armada ini dikenal luas sebagai salah satu mesin tempur paling mematikan dengan reputasi yang disegani di kawasan konflik.

Berdasarkan data resmi Boeing, helikopter ini dirancang untuk dioperasikan oleh dua personel, yakni seorang pilot dan perwira sistem persenjataan yang duduk dalam konfigurasi kursi tandem vertikal.

Secara fisik, Apache memiliki panjang 14,7 meter dan tinggi 4,7 meter. Seluruh konstruksi bodi tersebut ditopang oleh sistem rotor utama dengan diameter baling-baling mencapai 14,6 meter.

Desain tersebut dibuat khusus untuk mendukung operasional di medan geografis ekstrem. Selain itu, alutsista ini memiliki kemampuan angkut beban berat guna menunjang berbagai misi taktis di lapangan.

Ketangguhan manuver Apache didukung oleh sistem aerodinamika canggih serta dapur pacu yang mumpuni. Performa mesin T700 yang bertenaga, dipadukan dengan peningkatan pada sistem transmisi, menjadi kunci keandalannya.

Berkat sistem penggerak tersebut, helikopter ini mampu melakukan tanjakan secara responsif dengan kecepatan panjat maksimum mencapai lebih dari 853 meter per menit. Kemampuan mobilitas vertikal yang cepat ini dinilai sangat krusial agar helikopter dapat menghindari deteksi radar musuh.

Tidak hanya unggul dalam mobilitas vertikal, Apache juga memiliki kecepatan horizontal yang tinggi. Helikopter ini mampu melesat hingga 150 knot atau setara dengan lebih dari 279 kilometer per jam.

Sebagai platform tempur yang dioptimalkan untuk serangan presisi modern, Apache mengandalkan daya tahan dan kapasitas muatan sebagai keunggulan utama.

Struktur desainnya memungkinkan pesawat ini membawa berbagai senjata multiperan serta beban sensor. Hal ini memberikan jangkauan dan persistensi yang sangat dibutuhkan dalam menjalankan operasi berkelanjutan di wilayah konflik.

Boeing melengkapi Apache dengan kombinasi sistem persenjataan mematikan untuk menghadapi target di darat maupun udara. Salah satunya adalah kemampuan membawa hingga 16 rudal berpemandu laser Hellfire yang dirancang khusus untuk melumpuhkan kendaraan lapis baja.

Selain rudal, Apache juga dilengkapi dengan artileri sekunder berupa 76 roket berukuran 2,75 inci yang ditempatkan pada pod peluncur di sayap samping.

Sistem persenjataan terintegrasi ini turut diperkuat dengan senapan mesin otomatis jenis chain gun kaliber 30 milimeter. Sistem ini didukung oleh ketersediaan amunisi sebanyak 1.200 butir peluru.

Senjata mesin tersebut memiliki tingkat kecepatan tembakan konstan di kisaran 600 hingga 650 putaran peluru per menit.