Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan tipis pada penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda menguat 0,07 persen ke level Rp 18.036 per dolar AS di pasar spot.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp 18.039 per dolar AS, tidak berubah dari nilai penutupan pada hari sebelumnya.
Meskipun terdapat apresiasi tipis, pelaku pasar menilai posisi rupiah masih berada dalam tekanan yang signifikan setelah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Kondisi ini memicu fenomena panic buying terhadap mata uang dolar AS di pasar domestik. Para analis memperingatkan bahwa intervensi yang dilakukan Bank Indonesia melalui pasar spot maupun mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) saat ini lebih berfungsi sebagai penyangga untuk meredam volatilitas ekstrem, alih-alih membalikkan arah tren pasar secara menyeluruh.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyatakan bahwa ruang bagi penguatan rupiah dalam jangka pendek masih sangat terbatas.
Hal ini disebabkan oleh kendala likuiditas dolar AS di dalam negeri yang mengalami hambatan musiman atau bottleneck akibat aktivitas repatriasi dividen pada kuartal kedua.
Meski kondisi pasar yang mengalami jenuh jual atau oversold sempat memberikan peluang untuk penguatan teknikal, faktor fundamental dari eksternal dan internal tetap menempatkan rupiah pada posisi rentan.
Sentimen pasar ke depan akan sangat dipengaruhi oleh rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) AS periode Mei. Data terbaru menunjukkan peningkatan NFP sebesar 172.000, angka yang secara signifikan melampaui proyeksi ekonom sebesar 88.000.
Realisasi data yang lebih kuat dari ekspektasi ini memperkokoh narasi kebijakan suku bunga acuan higher-for-longer dari The Fed, yang turut mendongkrak imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun hingga melampaui 4,48 persen.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk kebuntuan negosiasi damai dan penolakan gencatan senjata oleh Hezbollah, juga berperan menjaga indeks dolar AS tetap kokoh sebagai aset aman atau safe-haven di level 99,4.
Dari sisi domestik, investor kini memantau efektivitas kebijakan wajib parkir 100 persen Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam. Selain itu, publikasi data cadangan devisa terbaru oleh Bank Indonesia menjadi indikator krusial yang akan menentukan apakah risk premium Indonesia di mata investor asing akan tetap stabil atau justru melebar.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa meski rupiah sempat ditutup menguat, tekanan jual atau sell-off di pasar ekuitas domestik masih berlanjut.
Kondisi ini mencerminkan sentimen investor yang cenderung masih lemah terhadap aset berisiko. Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, akan berada dalam kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Sementara itu, Sutopo Widodo memproyeksikan rupiah masih akan berada di bawah tekanan berat dan cenderung berkonsolidasi di area bottom fishing zone pada kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Pelaku pasar kini menanti respon global terhadap data ekonomi AS serta perkembangan stabilitas cadangan devisa nasional sebagai penentu arah pergerakan mata uang selanjutnya.







