Berita

WWF Indonesia Bekali Pemangku Kepentingan Papua Strategi Adaptasi Perubahan Iklim

24
×

WWF Indonesia Bekali Pemangku Kepentingan Papua Strategi Adaptasi Perubahan Iklim

Sebarkan artikel ini

Jayapura – Sebanyak kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah, organisasi masyarakat sipil (CSO), organisasi berbasis masyarakat (CBO), akademisi, serta WWF-Indonesia mengikuti pelatihan intensif mengenai Nature-based Solutions (NbS) for Climate Adaptation and Ecosystem-based Adaptation (EbA). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Horison Sentani, Jayapura, pada 1-4 Juni 2026.

Pelatihan ini digelar sebagai langkah strategis untuk memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan perubahan iklim yang kian nyata. Mengingat Tanah Papua merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi sekaligus menjadi kawasan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim global, pemahaman mengenai mitigasi dan adaptasi menjadi sangat krusial.

Agenda ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep dasar cuaca, iklim, mitigasi, serta memperkenalkan pendekatan Nature-based Solutions dan Ecosystem-based Adaptation sebagai strategi efektif dalam meningkatkan ketahanan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem.

Wika Rumbiak selaku Head of Forest & Wildlife WWF-Indonesia Program Papua menekankan pentingnya kolaborasi dan penguatan kapasitas dalam menghadapi krisis iklim di tingkat tapak. Ia mengatakan,

“Pelatihan Ecosystem-based Adaptation (EbA) ini penting untuk meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan mengenai perubahan iklim, pendekatan adaptasi berbasis ekosistem, serta peluang pendanaan iklim yang dapat mendukung implementasi EbA di berbagai tingkat.”

Ia menambahkan, penguatan ilmu pengetahuan, pengalaman masyarakat, dan kearifan lokal sangat relevan untuk terus dipromosikan dalam pengembangan model-model EbA yang kontekstual, efektif, dan berkelanjutan.

Dalam pelatihan ini, hadir pula narasumber ahli dari jaringan global WWF untuk memberikan perspektif komprehensif terkait penerapan adaptasi berbasis ekosistem. Shaun Martin dari WWF-US menyatakan,

“Kehadirannya dari Washington D.C. ditujukan untuk membantu WWF-Indonesia beserta para mitra mempelajari bagaimana memanfaatkan alam guna melindungi masyarakat dari dampak buruk krisis iklim, seperti peningkatan intensitas badai, kenaikan permukaan air laut, kekeringan, banjir, hingga tanah longsor.”

Shaun mengaku sangat optimis melihat antusiasme para peserta dan meyakini pelatihan ini telah memberikan dampak besar serta ide-ide segar yang dapat dibawa pulang untuk membantu komunitas dampingan masing-masing di Papua. Senada dengan hal tersebut, Henna Tanskanen dari WWF Finland menyoroti pentingnya menyatukan kekuatan bersama organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dan akademisi untuk merespons dampak iklim seperti banjir pesisir yang mengancam mata pencaharian warga.

Henna melihat potensi besar dari inisiatif lokal yang sudah berjalan di Papua. Ia berharap kolaborasi pascapelatihan ini dapat terus berlanjut untuk merancang proyek nyata serta menggalang sumber daya pendanaan yang lebih luas demi melindungi masyarakat dan alam sekitar.

Selain aspek konseptual, pelatihan ini dirancang untuk membangun kapasitas praktis peserta dalam mengakses peluang pendanaan iklim melalui penyusunan proposal yang berkualitas. Para peserta dibekali pengetahuan mengenai kebijakan perubahan iklim di tingkat global, nasional, hingga daerah, serta mendapatkan pendampingan langsung dalam merancang proposal EbA yang sesuai standar.

Manfaat teknis ini dirasakan langsung oleh peserta, salah satunya Fikri Al Mubarok, Pengendali Ekosistem Hutan dari BBKSDA Papua. Ia menilai pelatihan ini sangat luar biasa dan membuka wawasan baru karena menghadirkan sumber informasi utama dari tingkat global. Fikri menjelaskan,

“Pelatihan ini berhasil mengubah perspektifnya terkait kebijakan lingkungan dan aspek teknis pengajuan proposal donor.”

Namun, ia berharap agar setelah pelatihan ini selesai, tetap ada proses pendampingan lanjutan dan peninjauan kembali ketika peserta mulai merancang proyek riil yang akan diimplementasikan di lapangan.

Pentingnya keberlanjutan program dan pelibatan masyarakat akar rumput juga ditegaskan oleh Yohanes Yesnath dari Pokdarwis Kampung Nanggouw. Ia berharap program edukasi ini dapat terus diperluas dengan dukungan pemerintah daerah agar mampu melibatkan lebih banyak kelompok wisata serta masyarakat kampung secara umum.

Sementara itu, Direktur Perkumpulan MNUKWAR Papua, Sena Aji, menggarisbawahi bahwa konsep EbA sangat relevan bagi Tanah Papua karena menawarkan pengelolaan wilayah berbasis tiga pilar: iklim, manusia, dan alam. Menurutnya,

“Pendekatan seimbang ini dapat mengoptimalkan potensi besar daerah demi kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan keberlanjutan keanekaragaman hayati.”

Ia berharap konsep ini semakin banyak diaplikasikan dalam perencanaan pembangunan wilayah di Tanah Papua agar melahirkan generasi baru yang sadar lingkungan.

Melalui program intensif ini, diharapkan terjadi peningkatan pemahaman komprehensif mengenai strategi adaptasi serta penguasaan implementasi nyata konsep NbS dan EbA. Selain itu, pelatihan ini ditargetkan mampu meningkatkan keterampilan teknis peserta dalam mengembangkan proposal pendanaan iklim yang kompetitif, memperkuat sinergi kebijakan, serta membangun jejaring kolaborasi yang solid antar instansi di Tanah Papua.

WWF-Indonesia bersama seluruh mitra meyakini bahwa penguatan kapasitas yang dibarengi dengan kolaborasi lintas sektor adalah kunci membangun ketahanan iklim yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Wika Rumbiak menyampaikan apresiasi kepada WWF-US dan WWF Finland atas dukungan fasilitasinya, serta kepada seluruh peserta atas semangat belajar bersama dalam memperkuat aksi adaptasi perubahan iklim berbasis ekosistem di Tanah Papua.