Jakarta – Kinerja perekonomian Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif di tengah meredanya tekanan dinamika global. Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Juni 2026 yang memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026.
Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa berbagai indikator global menunjukkan tingkat volatilitas yang mulai menurun. Di saat yang sama, aktivitas ekonomi domestik terus menguat.
Peningkatan aktivitas ekonomi tersebut terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali memasuki zona ekspansi pada Mei 2026. Perbaikan ini tercermin dari kuatnya permintaan domestik, di mana indeks belanja masyarakat, penjualan kendaraan bermotor, hingga konsumsi semen menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Menurut Menteri Keuangan, data tersebut mengonfirmasi bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi terus bergerak positif.
“Ini menunjukkan domestic demand yang kuat dan juga menggambarkan daya beli masyarakat yang masih kuat,” jelas Menkeu.
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia telah berlanjut selama 72 bulan berturut-turut. Arus modal asing pun mencatatkan masuknya modal atau inflow pada triwulan II 2026, yang mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional. Adapun inflasi hingga Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen (year-on-year), tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia.
Dari sisi fiskal, realisasi APBN hingga akhir Mei 2026 menunjukkan kinerja yang solid. Pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan yang meningkat 22,1 persen serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang tumbuh 19,9 persen.
“Yang paling menarik adalah pendapatan pajak naik 22,1 persen. Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak dibandingkan dengan kondisi tahun lalu,” ujar Menkeu.
Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4 persen secara tahunan. Belanja tersebut diarahkan untuk mendukung program prioritas, menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan layanan publik, serta mempercepat aktivitas ekonomi nasional. Menurut Menkeu, strategi percepatan belanja negara dilakukan agar dampak APBN dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.
Ia menambahkan, realisasi tersebut membuat defisit APBN hingga akhir Mei 2026 tercatat sebesar 0,70 persen terhadap PDB, jauh di bawah batas undang-undang. Pada saat yang sama, keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp58,6 triliun, mencerminkan pengelolaan fiskal yang semakin sehat dan berkelanjutan.
“Surplus keseimbangan primer sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ungkap Menkeu Purbaya.
Menkeu menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga APBN agar tetap optimal berperan sebagai shock absorber dan penggerak perekonomian.
“Ke depan, pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat, prudent, adaptif, dan kredibel guna memperkuat stabilitas, menjaga momentum pertumbuhan, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” pungkas Menkeu Purbaya.







