BeritaPemerintahan

Dasco Tepas Kritik Dino Patti Djalal soal Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo

19
×

Dasco Tepas Kritik Dino Patti Djalal soal Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, saat awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: Farhan/Karisma
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, saat awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: Farhan/Karisma

Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad merespons kritik dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.

Menurut Dasco, masukan yang bersifat substansial terkait geopolitik patut dijadikan bahan pertimbangan oleh pemerintah.

Namun, ia menilai bahwa pembatasan frekuensi kunjungan kepala negara tidak relevan dengan dinamika global saat ini.

“Menurut saya kalau kemudian masukan soal substansi geopolitik, saya pikir saya setuju bahwa itu kemudian dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan. Karena masukan-masukan yang bagus tentunya mengapa tidak,” ujar Dasco kepada awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Politisi Partai Gerindra itu menekankan bahwa frekuensi kunjungan Presiden ke luar negeri harus dilihat berdasarkan kebutuhan dan situasi yang berkembang.

Ia menilai dinamika global saat ini sangat memengaruhi kondisi nasional, sehingga memerlukan langkah cepat dan strategis dari Presiden.

“Tetapi tadi sudah disampaikan bahwa kalau kemudian frekuensi, saya pikir sesuai dengan kebutuhan dan situasi pada saat ini, baik kemudian dinamika di dalam negeri dan apalagi di luar negeri yang sangat mempengaruhi dinamika di dalam negeri tentunya yang berdampak,” jelas Pimpinan DPR RI Koordinator Politik dan Keamanan (Korpolkam) tersebut.

Dasco menegaskan bahwa Presiden memiliki strategi diplomasi tersendiri yang tidak bisa dibatasi dengan hitungan jumlah perjalanan.

Ia menambahkan bahwa agenda luar negeri yang dilakukan Presiden selama ini selalu fokus pada kepentingan strategis nasional.

“Presiden juga mempunyai strategi-strategi yang tentunya tidak bisa dibatasi dengan jadwal harus sekian kali, harus sekian kali karena itu dinamis,” katanya.

Ia melanjutkan, kunjungan luar negeri Presiden selama ini dilakukan seperlunya dan dalam durasi yang relatif singkat sebelum kembali ke Tanah Air.

“Kalau kita lihat kepergian Presiden ke luar negeri itu juga dalam waktu yang singkat-singkat, seperlunya saja kemudian membahas yang perlu-perlu kemudian kembali ke Indonesia,” imbuh Dasco.

Terkait adanya kunjungan mendadak, Dasco menilai hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari situasi internasional yang berkembang cepat dan membutuhkan respons segera.

“Kalau kemudian dadakan itu biasanya memang karena situasi yang memang harus membuat Presiden juga harus sesegera berangkat,” tuturnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk terus memberikan masukan yang bersifat substansial dan konstruktif terhadap kebijakan luar negeri pemerintah.

Dasco menegaskan, kritik berbasis substansi akan selalu mendapat ruang, sedangkan perdebatan mengenai jumlah atau durasi kunjungan bukanlah isu utama.

“Marilah kemudian kita memberikan masukan yang substansi dan itu pasti akan diberikan ruang, tetapi kemudian pembatasan-pembatasan apalagi kemudian berkaitan dengan jumlah waktu kunjungan, saya pikir itu enggak substansi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Dino Patti Djalal menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Meski mengakui pentingnya diplomasi, ia mengingatkan agar agenda perjalanan tetap memperhatikan efektivitas, prioritas nasional, serta kebutuhan penanganan persoalan domestik.