Jakarta – Indeks Niño 3.4 tercatat berada di angka +0,97 pada dasarian II Mei 2026. Angka tersebut menjadi indikator bahwa wilayah tersebut tengah bergerak menuju ambang El Niño moderat.
Kendati demikian, sejumlah wilayah di Indonesia hingga kini masih terus diguyur hujan lebat. Fenomena cuaca ekstrem ini salah satunya masih melanda wilayah Sulawesi Tengah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika iklim tropis yang kompleks. Pihaknya menegaskan bahwa fenomena El Niño tidak bekerja secara instan layaknya tombol yang bisa langsung menghentikan hujan.
“Dampaknya bertahap, dan hujan ekstrem di fase awal merupakan bagian dari masa transisi,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.
Menurut BMKG, proses interaksi antara lautan dan atmosfer membutuhkan waktu mulai dari berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk mengubah sirkulasi angin global secara signifikan. Selama proses tersebut belum sempurna, dampak pengeringan di Indonesia diprediksi belum akan terasa sepenuhnya.
Faktor utama yang memicu hujan deras saat ini adalah kondisi perairan lokal yang hangat. Di Sulawesi Tengah, suhu hangat di Laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Laut Maluku memicu penguapan tinggi yang menjadi bahan bakar terbentuknya awan konvektif tebal jenis Cumulonimbus.
BMKG menekankan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan ganda. Warga diimbau untuk tetap bersiap menghadapi potensi banjir dalam jangka pendek, sekaligus mulai menabung air untuk mengantisipasi kekeringan di masa mendatang.
Untuk langkah jangka pendek, masyarakat direkomendasikan memaksimalkan pengisian cadangan air pada embung, waduk, dan danau. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor, terutama di jalur-jalur rawan seperti Trans Sulawesi.
Sementara untuk jangka panjang, wilayah lumbung pangan seperti Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong disarankan beralih menanam komoditas yang lebih tahan kering. Tanaman yang disarankan antara lain jagung, kedelai, atau umbi-umbian.
BMKG juga mengeluarkan peringatan keras agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Peringatan ini terutama ditekankan bagi wilayah Lembah Palu yang memiliki curah hujan tahunan terendah dan sangat rawan terbakar.
Meski indeks Niño 3.4 yang positif menjadi alarm bahwa akumulasi hujan ke depan akan berada di bawah normal, BMKG mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem harian seperti badai lokal dan banjir bandang tetap menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai.







