BeritaEcozone

Krisis Minyak Dunia Melanda, Indef Ungkap Indonesia Justru Bisa Tumbuh Hingga 7 Persen

39
×

Krisis Minyak Dunia Melanda, Indef Ungkap Indonesia Justru Bisa Tumbuh Hingga 7 Persen

Sebarkan artikel ini
krisis-minyak-dunia-melanda,-indef-ungkap-indonesia-justru-bisa-tumbuh-hingga-7-persen
krisis minyak dunia melanda, indef ungkap indonesia justru bisa tumbuh hingga 7 persen

Jakarta – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai krisis harga minyak dunia akibat konflik geopolitik tidak selalu berdampak buruk bagi Indonesia. Kondisi ini justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Didik menyebut narasi krisis yang berkembang di publik saat ini cenderung berlebihan. Menurutnya, fluktuasi harga minyak global merupakan fenomena berulang yang pernah dihadapi Indonesia di berbagai era pemerintahan, mulai dari masa Soeharto hingga Joko Widodo.

Ia menekankan pentingnya perspektif out of the box dalam menyikapi situasi ini. Krisis harga minyak harus dijadikan momentum untuk memperkuat sektor sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia sebagai shock absorber atau bantalan ekonomi.

Sektor berbasis SDA dinilai memiliki keunggulan struktural untuk menyerap guncangan saat terjadi krisis energi global. Kebijakan yang tepat akan menentukan apakah sektor ini mampu menjadi fondasi transformasi ekonomi jangka panjang, bukan sekadar penyelamat jangka pendek.

Meski mengakui adanya tekanan pada biaya energi, beban subsidi, dan pelemahan nilai tukar rupiah, Didik menegaskan bahwa sejumlah sektor justru akan diuntungkan. Sektor tersebut meliputi pertambangan batu bara, minyak bumi, gas, panas bumi, bijih logam seperti nikel, timah, dan bauksit, serta perkebunan seperti minyak sawit mentah (CPO) dan karet.

Sektor-sektor ini diuntungkan karena menggunakan input domestik dalam mata uang rupiah, sementara hasil produksinya diekspor dengan mata uang asing. Depresiasi nilai tukar justru dapat meningkatkan daya saing ekspor komoditas tersebut di pasar global.

Sebagai contoh, Didik merujuk pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, kenaikan harga minyak global justru mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen berkat meningkatnya permintaan ekspor komoditas.

Jakarta – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai krisis harga minyak dunia akibat konflik geopolitik tidak selalu berdampak buruk bagi Indonesia. Kondisi ini justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Didik menekankan pentingnya perspektif out of the box dalam menyikapi fluktuasi harga minyak global. Menurutnya, narasi krisis yang berkembang di publik saat ini cenderung berlebihan, mengingat fenomena serupa merupakan hal yang berulang dan pernah dihadapi Indonesia di berbagai era pemerintahan sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan struktural pada sektor sumber daya alam (SDA) yang dapat berfungsi sebagai shock absorber atau bantalan ekonomi saat terjadi krisis energi. Sektor ini dinilai mampu menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Meski mengakui kenaikan harga minyak menekan perekonomian melalui peningkatan biaya energi, beban subsidi, dan pelemahan nilai tukar rupiah, Didik menegaskan bahwa sektor berbasis SDA justru akan diuntungkan.

Sektor-sektor tersebut meliputi pertambangan batu bara, minyak bumi, gas, panas bumi, bijih logam seperti nikel, timah, dan bauksit, serta perkebunan seperti minyak sawit mentah (CPO) dan karet.

Keunggulan sektor ini terletak pada penggunaan input domestik dalam mata uang rupiah, sementara hasil produksinya diekspor dengan mata uang asing. Depresiasi nilai tukar justru dapat meningkatkan daya saing ekspor komoditas tersebut di pasar global.

Sebagai contoh, Didik merujuk pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di mana kenaikan harga minyak global justru mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen berkat meningkatnya permintaan ekspor komoditas.

Jakarta – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, menilai krisis harga minyak dunia akibat konflik geopolitik tidak selalu berdampak buruk bagi Indonesia. Kondisi ini justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Didik menyebut narasi krisis yang berkembang di publik saat ini terlalu berlebihan. Menurutnya, fluktuasi harga minyak global merupakan fenomena berulang yang pernah terjadi di berbagai era pemerintahan sebelumnya.

Ia menekankan pentingnya perspektif out of the box dalam menyikapi situasi ini. Indonesia dinilai memiliki keunggulan struktural pada sektor sumber daya alam (SDA) yang dapat berfungsi sebagai shock absorber atau bantalan ekonomi saat terjadi krisis energi.

Meski kenaikan harga minyak menekan perekonomian melalui peningkatan biaya energi, beban subsidi, dan pelemahan nilai tukar rupiah, sektor berbasis SDA justru menunjukkan ketahanan dan potensi keuntungan.

Sektor-sektor tersebut meliputi pertambangan batu bara, minyak bumi, gas, panas bumi, bijih logam seperti nikel, timah, dan bauksit, serta perkebunan seperti minyak sawit mentah (CPO) dan karet.

Didik menjelaskan, sektor-sektor ini diuntungkan karena memiliki basis input domestik dalam rupiah, sementara output-nya berupa ekspor yang menghasilkan devisa. Depresiasi nilai tukar justru meningkatkan daya saing ekspor komoditas tersebut di pasar global.

Ia mencontohkan, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kenaikan harga minyak global justru mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen karena meningkatnya permintaan ekspor komoditas.