Fenesia – Kisah pilu mewarnai perang di Ukraina. Di balik ribuan nyawa tentara yang gugur di medan pertempuran, terungkap tragedi lain: kasus bunuh diri yang menimpa para prajurit.
Fenomena ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, diperparah dengan stigma dan minimnya dukungan dari negara.
Kateryna, seorang ibu yang kehilangan putranya, Orest, akibat bunuh diri, mengungkapkan kekecewaannya. “Negara mengambil anak saya, mengirimnya ke perang, dan mengembalikan tubuhnya dalam kantong. Tidak ada bantuan, tidak ada kebenaran, tidak ada apa-apa,” ujarnya dengan nada bergetar.
Orest, yang semula dinyatakan tidak layak bertugas karena masalah penglihatan, justru diterjunkan ke garis depan setelah direkrut paksa. Depresi dan tekanan mental diduga menjadi penyebab Orest mengakhiri hidupnya.
Tragisnya, keluarga korban bunuh diri tidak mendapatkan kompensasi, penghormatan militer, atau pengakuan publik layaknya prajurit yang gugur dalam pertempuran.
Jumlah Kasus Bunuh Diri Diduga Lebih Tinggi dari yang Dilaporkan
Meskipun tidak ada data resmi, aktivis hak asasi manusia dan keluarga korban meyakini jumlah kasus bunuh diri di kalangan tentara Ukraina mencapai ratusan. Pejabat setempat cenderung meremehkan, menganggapnya sebagai kejadian luar biasa.
BBC berhasil mengumpulkan tiga kisah keluarga yang anggota keluarganya meninggal karena bunuh diri saat bertugas. Setiap cerita mencerminkan kelelahan psikologis dan sistem yang dinilai mengabaikan kesehatan mental para prajurit.
Mariyana, seorang istri yang suaminya, Anatoliy, bunuh diri setelah trauma pertempuran di Bakhmut, merasa dikhianati oleh negara. “Ketika dia berada di garis depan, dia dianggap berguna. Tapi sekarang dia bukan pahlawan?” tanyanya dengan pilu.
Anatoliy, yang bertugas sebagai penembak mesin, mengalami perubahan drastis setelah menyaksikan puluhan rekannya tewas dalam sebuah misi. Ia kemudian bunuh diri di rumah sakit setelah kehilangan sebagian lengannya.
Stigma dan Diskriminasi Ganda
Mariyana tidak hanya kehilangan suaminya, tetapi juga harus menghadapi stigma dari para janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Ia hanya menemukan dukungan dari komunitas online perempuan yang mengalami nasib serupa.
Viktoria, seorang istri dari Lviv, masih tidak berani membicarakan kematian suaminya, Andriy, secara terbuka karena takut dikecam. Andriy, yang memiliki kelainan jantung bawaan, bersikeras bergabung dengan pasukan perang dan bertugas sebagai sopir di unit pengintaian.
Setelah menerima kabar kematian suaminya, Viktoria menemukan sejumlah kejanggalan dalam penyelidikan. Ia kemudian menyewa pengacara dan berhasil meyakinkan militer untuk membuka kembali kasus tersebut.
Perlunya Reformasi Sistemik dan Dukungan Psikologis
Oksana Borkun, yang mengelola komunitas dukungan untuk janda militer, mengatakan bahwa banyak keluarga meragukan penjelasan resmi tentang kematian anggota keluarga mereka. Ia juga menyayangkan stigma yang melekat pada kasus bunuh diri.
Pastor militer Father Borys Kutovyi mengakui bahwa setiap kasus bunuh diri merupakan kegagalan. Ia menekankan pentingnya memberikan dukungan psikologis yang memadai bagi para prajurit, terutama mereka yang tidak memiliki latar belakang militer.
Olha Reshetylova, ombudsman militer Ukraina, mengakui bahwa upaya yang dilakukan selama ini belum cukup. Ia mendorong reformasi sistemik, termasuk membangun sekolah psikologi militer dan memastikan keluarga korban mendapatkan kebenaran.
“Mereka telah mengalami neraka. Bahkan pikiran yang paling kuat pun bisa hancur,” ujar Reshetylova. Ia juga menekankan pentingnya menyambut para veteran perang dengan hangat agar tragedi serupa tidak terulang kembali.












