Jakarta – Pelaku industri kripto mendesak adanya standardisasi bagi influencer untuk menjaga kredibilitas informasi dan melindungi investor dari risiko misinformasi. Dominasi influencer dalam ekosistem kripto saat ini dinilai belum diimbangi dengan standar yang jelas, sehingga berpotensi menyesatkan masyarakat.
CEO Indodax, William Sutanto, menyatakan bahwa influencer memiliki posisi strategis dalam menjembatani informasi kripto yang kompleks kepada publik. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi panel Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 yang berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026.
Menurut William, platform seperti Instagram, YouTube, dan Twitter kerap dimanfaatkan influencer untuk pemasaran, distribusi informasi, hingga edukasi. Namun, karena karakter kripto yang teknis, informasi yang disampaikan tanpa standar yang jelas berisiko keliru.
“Tanpa peran pihak yang mengedukasi masyarakat, pesan yang disampaikan berpotensi keliru. Ekosistem kripto di Indonesia tidak akan berkembang seperti saat ini tanpa kontribusi influencer dan konten kreator,” ujar William.
Selain itu, munculnya akun anonim dengan pengaruh besar menjadi tantangan baru. Akun-akun tersebut dinilai rawan menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan memicu kampanye negatif atau pencemaran nama baik.
William menegaskan perlunya pengaturan dan pengawasan yang lebih ketat dari otoritas terkait agar ekosistem kripto tetap sehat dan berintegritas. Ia menekankan bahwa edukasi harus tetap berjalan dengan mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Saya sangat mendukung adanya pengaturan dari otoritas agar kondisi tetap terkendali dan masyarakat terlindungi,” pungkasnya.
Jakarta – Pelaku industri kripto mendesak adanya standardisasi bagi influencer untuk menjaga kredibilitas informasi dan melindungi investor dari risiko misinformasi. Dominasi influencer dalam ekosistem kripto saat ini dinilai belum diimbangi dengan standar yang jelas, sehingga berpotensi menyesatkan masyarakat di tengah tingginya konsumsi konten digital.
CEO Indodax, William Sutanto, menyatakan bahwa influencer memiliki posisi strategis dalam menjembatani informasi kripto yang kompleks kepada publik. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi panel Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 yang berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026.
Menurut William, platform seperti Instagram, YouTube, dan Twitter kerap dimanfaatkan influencer sebagai sarana pemasaran, distribusi informasi, sekaligus edukasi. Namun, karena karakter kripto yang teknis, informasi yang disampaikan tanpa standar yang jelas berisiko keliru dan menyesatkan.
Ia mengakui bahwa ekosistem kripto di Indonesia







