Jakarta – Investor emas batangan PT Aneka Tambang (ANTM) diingatkan untuk lebih cermat memperhatikan selisih harga jual dan harga pembelian kembali atau buyback. Langkah ini penting agar para investor tidak terjebak dalam kerugian, terutama untuk investasi jangka pendek.
Berdasarkan data Minggu (31/5), harga emas Logam Mulia bertahan di angka Rp 2.799.000 per gram. Di sisi lain, harga buyback ditetapkan sebesar Rp 2.609.000 per gram.
Adanya selisih harga atau spread mencapai Rp 190.000 per gram menjadi faktor determinan dalam kalkulasi keuntungan investor. Oleh karena itu, emas batangan dinilai lebih optimal jika dijadikan instrumen investasi jangka panjang guna mengompensasi biaya spread tersebut.
Simulasi menunjukkan bahwa investor yang melakukan transaksi dalam rentang waktu singkat berisiko mencatatkan kerugian. Sebagai contoh, pembelian emas pada 24 Mei 2026 di harga Rp 2.773.000 per gram akan menghasilkan kerugian sekitar 5,91 persen jika dijual kembali dengan harga buyback saat ini.
Sebaliknya, keuntungan signifikan bisa didapatkan bagi mereka yang menyimpan emas dalam durasi panjang. Investor yang membeli emas pada 31 Agustus 2024 di harga Rp 1.401.000 per gram, misalnya, berpotensi meraup keuntungan hingga 86,22 persen jika dijual pada harga saat ini.
Pihak Logam Mulia menjelaskan bahwa terdapat dua kategori harga yang diterapkan. Harga emas batangan yang tertera di gerai merupakan harga saat nasabah membeli, sementara harga buyback adalah nilai saat emas dijual kembali ke gerai.
Mekanisme harga yang berbeda ini sering kali tidak diperhitungkan oleh investor pemula. Pihak Logam Mulia menegaskan, “Jika investor membeli emas pada pagi hari dan harus menjualnya kembali dalam waktu singkat, mereka akan langsung menanggung kerugian sebesar selisih harga jual dan harga beli tersebut.”
Strategi investasi yang paling disarankan bagi masyarakat adalah menjadikan emas sebagai instrumen pelindung nilai (hedging) jangka panjang, bukan sebagai alat transaksi harian. Dengan menyimpan emas dalam waktu yang lebih lama, kenaikan harga komoditas diharapkan mampu melampaui spread harga sehingga memberikan keuntungan nyata bagi investor.







