Berita

Keraton Surakarta Hadapi Dualisme: Dua Putra Klaim Takhta Raja

181
×

Keraton Surakarta Hadapi Dualisme: Dua Putra Klaim Takhta Raja

Sebarkan artikel ini
dualisme-keraton-surakarta,-ada-2-raja-bergelar-pakubowono-xiv
dualisme keraton surakarta, ada 2 raja bergelar pakubowono xiv

Surakarta – Keraton Surakarta kembali diwarnai konflik internal. Dua putra mendiang Pakubuwono XIII saling klaim sebagai pewaris takhta dan menyandang gelar Pakubuwono XIV.

Gusti Purbaya, putra bungsu Pakubuwono XIII, telah dilantik menjadi raja pada Sabtu (15/11). Upacara Jumenengan Dalem Nata Binayangkare digelar di Keraton Surakarta.

Dalam upacara adat di Bangsal Manguntur Tangkil, Kompleks Siti Hinggil, Purbaya mengucapkan sumpah jabatan. Ia berikrar menjalankan kepemimpinan berdasarkan syariat Islam dan adat Keraton Surakarta.

Purbaya juga menyatakan dukungannya terhadap NKRI dan berjanji melestarikan budaya Jawa.

Namun, klaim serupa muncul dari KGPH Mangkubumi, putra tertua Pakubuwono XIII dari ibu yang berbeda.

Mangkubumi mengklaim sebagai pewaris takhta berdasarkan aturan adat keluarga besar keraton.

Klaim ini didasari pertemuan keluarga yang digagas KG Panembahan Agung Tedjowulan. Dalam pertemuan itu, Mangkubumi dinobatkan sebagai Pangeran Pati dan kemudian diangkat menjadi SISKS Pakubuwono XIV pada Kamis (13/11).

“Setelah meninggalnya SISKS Pakubuwana XIII, saya mewarisi takhta kerajaan menggantikan mendiang ayah, dengan julukan SISKS Pakubuwono XIV,” ujar Mangkubumi.

Konflik perebutan takhta ini bukan kali pertama terjadi di Keraton Surakarta. Situasi serupa pernah terjadi pada tahun 2004, ketika KGPH Hangabehi dan KGPH Tejowulan saling mengklaim sebagai Pakubuwono XIII.