Berita

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Filipina dan Tewaskan Belasan Orang

16
×

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Filipina dan Tewaskan Belasan Orang

Sebarkan artikel ini
pakar-bongkar-alasan-kenapa-filipina-kerap-diguncang-gempa-besar
pakar bongkar alasan kenapa filipina kerap diguncang gempa besar

Jakarta – Gempa dahsyat dengan kekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6). Getaran gempa tersebut turut dirasakan hingga sejumlah wilayah di Indonesia, terutama Sulawesi Utara, hingga memicu dikeluarkannya peringatan tsunami.

Berdasarkan laporan, aparat setempat menyatakan sebanyak 19 orang meninggal dunia, 134 orang mengalami cedera, dan 12 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Data tersebut merupakan laporan awal yang masih terus diperbarui oleh pihak berwenang.

Filipina diketahui merupakan wilayah yang kerap diguncang gempa besar dalam beberapa tahun terakhir. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh kompleksitas tektonik yang sangat tinggi di kawasan itu.

“Karena kompleksitas tektoniknya sangat tinggi: lempeng laut Maluku (double subduction), subduksi lempeng laut Filipina, dan Subduksi Cotabato. Belum lagi sesar-sesar aktifnya,” kata Daryono, Senin (8/6).

Selain itu, terdapat banyak palung laut dalam di sekitar wilayah Filipina, seperti Palung Filipina. Di zona ini, kerak samudra menujam ke bawah lempeng benua dan memicu aktivitas subduksi lempeng megathrust yang sering menimbulkan gempa berskala besar serta berpotensi memicu tsunami.

Daryono menduga gempa bermagnitudo 7,7 tersebut masuk dalam kategori megathrust yang bersumber dari zona Cotabato.

“Tadi itu gempa megathrust. Diduga kuat Megathrust Cotabato,” jelas dia.

Lokasi geografis Filipina yang berada di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) juga menjadi faktor utama negara tersebut rawan gempa, sama halnya dengan Indonesia. Wilayah ini merupakan sabuk tektonik yang terdiri dari busur vulkanik dan palung samudra, serta memiliki banyak sesar tektonik baik di darat maupun lepas pantai.

“Seluruh panjang wilayah Filipina, sekitar 1.800 km, berada tepat di sepanjang batas dua lempeng tektonik utama, lempeng Laut Filipina, dan lempeng Eurasia, yang merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik,” ujar asisten profesor di Institut Nasional Ilmu Geologi, Universitas Filipina, John Dale B Dianala.

“Kedua lempeng ini, yang lebarnya ribuan kilometer, saling mendorong selama jutaan tahun dengan kecepatan dua hingga tiga kali lipat dari pertumbuhan kuku jari tangan,” lanjut dia.

Menurutnya, setiap gempa bumi yang terjadi merupakan manifestasi pelepasan tegangan secara berkala di sepanjang retakan panjang pada lempeng-lempeng tersebut.

Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pergerakan beberapa meter di sepanjang sesar saat gempa besar terjadi.