Jakarta – Lini masa kembali memberikan pelajaran pahit. Publik bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri.
Kabar tentang listrik dan ATM akan mati selama tujuh hari beredar luas tanpa sumber yang jelas. Isu ini membuat banyak orang khawatir.
Praktisi big data, Azis Subekti, mengatakan tidak ada pengumuman resmi atau institusi negara yang membenarkan isu tersebut.
“Yang bekerja bukan kebenaran, melainkan ketakutan,” ujarnya, Ahad (1/2/2026).
Di saat yang sama, lini masa lain dipenuhi video tarian pernikahan yang viral.
Dua peristiwa ini bertemu di satu titik: algoritma yang mengutamakan emosi.
“Takut, marah, terharu, atau tertawa—semuanya diperlakukan setara selama mampu membuat orang berhenti berpikir dan terus menggulir layar,” kata anggota DPR RI Fraksi Gerindra ini.
Dalam sepekan terakhir, informasi dinilai bukan dari kebenarannya, melainkan dari keramaiannya.
Pertanyaan “benar atau tidak” kalah cepat dari “sudah viral atau belum”.
Emosi menjadi pintu masuk utama, sementara literasi tertinggal.
“Ketika rasa takut dipantik, nalar menyusut. Ketika empati disentuh, kehati-hatian sering ditinggalkan,” imbuhnya.
Hoaks yang dibiarkan beredar membentuk kebiasaan kolektif: bereaksi dulu, berpikir belakangan.







