Jakarta – Pengakuan Aurelie Moeremans soal pengalaman child grooming dalam memoarnya, Broken Strings, masih jadi perhatian. Psikolog Joice Manurung memberikan penjelasan terkait kondisi psikologis Aurelie.
Menurutnya, pengalaman berat sejak muda bisa membentuk daya tahan mental.
Joice menilai Aurelie punya daya tahan emosi yang relatif kuat.
“Jadi barangkali bentukan pengalaman hidupnya tuh cukup bergejolak cukup tangguh sehingga dia terbiasa dengan tekanan, terbiasa dengan situasi yang membuat dia tidak merasa nyaman, kemungkinan seperti itu,” jelas Joice.
Ketenangan Aurelie saat cerita kisah pahitnya dinilai sebagai mekanisme bertahan.
Joice menyebut banyak korban trauma yang tampak kuat di luar, tapi menyimpan tekanan emosional dalam jangka panjang.
“Namun, sisi lain saya pikir ini upaya dia juga untuk menenangkan dirinya. Jadi banyak orang memilih cara merasionalisasi dan menunjukkan sesuatu yang sifatnya tuh ah gapapa kok saya bisa lalui kok. Satu sisi itu baik karena itu membantu dia bisa melewati, dia menyelesaikan strenya tekanannya. Namun, satu sisi itu kan menimbun sebenarnya,” lanjutnya.
Joice menekankan bahwa relasi dalam kasus child grooming sering disalahartikan sebagai cinta.
Padahal, yang terjadi adalah ketergantungan emosi akibat kebutuhan afeksi yang tidak terpenuhi.
“Sebenarnya ini bukan bentuk cinta dalam arti yang sebenarnya ya, tapi bentuk ketergantungan emosi. Jadi kalo biasanya child grooming itu dialami oleh anak-anak yang secara afeksinya memang kurang perhatian atau bentuk attachment atau kedekatan emosional dengan figur terdekat ayah ibu saudara misalnya itu kurang,” tuturnya.
Pelaku, menurut Joice, biasanya jeli membaca kekosongan emosional korban.
Mereka lalu hadir sebagai sosok yang memberi perhatian, perlindungan, dan rasa aman semu.







