Berita

Trump Tarik Tarif, Rupiah Kembali Tertekan di Awal 2026

144
×

Trump Tarik Tarif, Rupiah Kembali Tertekan di Awal 2026

Sebarkan artikel ini
rupiah-tertekan-di-awal-2026-seiring-penguatan-dolar-as
rupiah tertekan di awal 2026 seiring penguatan dolar as

Jakarta – Rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS.

Pada Selasa (8/4/2025), nilai tukar rupiah dibuka melemah ke Rp16.865 per dolar AS setelah libur Lebaran.

Pemicunya adalah kebijakan tarif balasan dari Presiden AS Donald Trump.

Trump mengenakan tarif 32% untuk produk impor dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, mulai 9 April 2025.

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga ikut melemah.

Yuan China turun 0,17%, rupee India 0,71%, dolar Hong Kong 0,04%, dan ringgit Malaysia 0,16%.

Jakarta – Awal tahun 2026, tekanan global membayangi rupiah.

Dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik.

Namun, indikator stabilitas eksternal Indonesia diklaim masih kuat.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah dibuka pada Rp16.680 per dolar AS pada Jumat (2/1/2026).

Angka ini sedikit melemah dibanding akhir 2025.

Indeks dolar (DXY) menguat ke 98,32.

Yield US Treasury Note 10 tahun naik ke 4,167 persen.

Pasar obligasi domestik relatif stabil.

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stabil di kisaran 6,04 persen.

Premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun turun menjadi 67,78 basis poin.

Nonresiden membukukan beli neto Rp2,43 triliun di pasar saham dan SBN pada 29–31 Desember 2025.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menegaskan, Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).