Phnom Penh – Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja terus memanas, menewaskan sedikitnya 13 orang dan menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi sejak Senin (8/12/2025). Di tengah meningkatnya korban, Kamboja menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi kapan pun guna menghentikan permusuhan, namun menolak untuk mengambil langkah pertama. Di sisi lain, Thailand bersikeras Kamboja harus menunjukkan ketulusan dan menolak dialog di tengah pertempuran yang sedang berlangsung.
Sous Yara, Penasihat Senior Perdana Menteri Kamboja, menegaskan bahwa Kamboja siap berunding “satu jam dari sekarang” jika kedua belah pihak sepakat untuk memulai komunikasi. Ia melihat langkah tersebut sebagai “ide yang sangat bagus” mengingat kedua negara akan selalu bertetangga dan perlu mencapai konsensus. Konflik ini, menurutnya, adalah permainan yang merugikan semua pihak.
Namun, Kamboja enggan mengambil inisiatif untuk memulai proses negosiasi sendirian. Mereka menekankan pentingnya niat baik yang disepakati bersama dari kedua belah pihak untuk menghentikan perang.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Thailand menuntut Kamboja untuk menunjukkan ketulusan dan mengambil langkah pertama guna meredakan ketegangan. Thailand juga secara tegas mengesampingkan kemungkinan mediasi oleh pihak ketiga.
Kekhawatiran internasional juga meningkat. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mendesak penghentian segera permusuhan, perlindungan warga sipil, dan langkah-langkah deeskalasi dari kedua belah pihak. Rubio menyatakan keprihatinannya atas ketegangan yang kembali terjadi di perbatasan Thailand-Kamboja.
Pemicu ketegangan salah satunya melibatkan tuduhan pelanggaran perjanjian. Thailand berulang kali menuduh Kamboja melanggar kesepakatan, termasuk pemasangan ranjau darat baru. Pada November, Thailand bahkan menarik diri dari pakta damai setelah insiden ledakan ranjau yang melukai seorang tentaranya.
Di sisi lain, Kamboja membantah tuduhan tersebut dan menegaskan pihaknya mematuhi kesepakatan damai yang dicapai pada Oktober. Meskipun analisis ahli terhadap materi yang dibagikan oleh militer Thailand menunjukkan bahwa beberapa ranjau di perbatasan kemungkinan baru dipasang, Kamboja menyatakan bahwa ranjau darat tidak bisa menjadi alasan untuk berperang.
Sementara itu, militer Thailand telah menetapkan target untuk melumpuhkan kemampuan militer Kamboja. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya militer ini dan secara tegas mengesampingkan segala bentuk dialog di tengah pertempuran yang sedang berlangsung, memperkuat jalan buntu diplomatik antara kedua negara.







