Berita

Radikalisme Online Incar Remaja: UI Soroti Kerentanan Psikologis

124
×

Radikalisme Online Incar Remaja: UI Soroti Kerentanan Psikologis

Sebarkan artikel ini
pakar-ungkap-alasan-anak-muda-makin-rentan-terjerat-propaganda-ekstrem-di-dunia-maya
pakar ungkap alasan anak muda makin rentan terjerat propaganda ekstrem di dunia maya

Jakarta – Ancaman radikalisme online mengintai generasi muda Indonesia. Ledakan di SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat bahwa anak-anak dan remaja rentan terpapar propaganda ekstrem melalui dunia maya.

Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Zora A. Sukabdi, menyebut minimnya dukungan emosional dan tekanan hidup menjadi celah bagi kelompok radikal menjerat generasi muda.

“Tuntutan hidup yang tinggi, serba cepat, serba sempurna, ditambah krisis pribadi, membuat anak-anak rentan terpapar radikalisme online,” kata Zora, Minggu (30/11/2025).

Kelompok radikal aktif membidik generasi Z dan Alpha melalui propaganda digital. Mereka melihat generasi muda sebagai target ideal untuk regenerasi.

“Mereka sadar generasi tua sudah usang. Mereka butuh generasi baru yang lebih berani, pintar, dan cepat,” tegasnya.

Zora menekankan pentingnya peran orang tua sebagai garda terdepan. Pengawasan bukan hanya soal membatasi akses internet, tetapi juga memahami konten yang dikonsumsi anak.

“Jenis game, durasi bermain, materi yang dilihat, semua harus diperhatikan. Apakah penuh kekerasan? Siapa yang mereka ajak bicara? Apakah ada interaksi mencurigakan? Literasi digital juga wajib diajarkan,” ujar Zora.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga didorong untuk melakukan upaya preventif. Edukasi dan pelatihan harus menjangkau akar rumput.

“BNPT perlu melatih guru, ASN, hingga ibu-ibu di Posyandu tentang parenting. Edukasi harus menyentuh akar rumput, tidak melulu di hotel atau tempat elite,” kata Zora.

Sebelumnya, ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 mengejutkan publik. Pelaku, seorang siswa, terpapar konten kekerasan dan ekstrem, serta belajar merakit bom dari internet.

BNPT dan Densus 88 mengungkap 110 anak berusia 10-18 tahun diduga direkrut jaringan terorisme. Mereka tersebar di 23 provinsi, dengan mayoritas rekrutmen dilakukan secara online.

BNPT mengidentifikasi tiga aktivitas utama jaringan terorisme di dunia maya: propaganda, rekrutmen, dan pendanaan.