Tokyo – Toyota terus kembangkan riset etanol dari bahan non-pangan demi mencapai netralitas karbon. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pangan.

Penggunaan bahan pangan untuk bahan bakar kendaraan kerap menimbulkan perdebatan etis.

Hal ini diungkapkan Hiroki Nakajima, Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Chief Technology Officer (CTO) TMC.

Sorgum menjadi fokus utama riset Toyota karena tahan di lahan kering dan berpotensi dipanen tiga kali setahun.

Selain sebagai bahan pangan dan pakan ternak, sorgum juga memiliki varietas biomassa yang cocok untuk produksi bioetanol skala besar.

Toyota tengah menjalankan penelitian holistik dengan mitra otomotif global. Tujuannya, menciptakan proses produksi etanol yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Nakajima optimistis etanol berbasis non-pangan dapat menjadi solusi penting untuk memperluas pemanfaatan biofuel.

Riset ini merupakan bagian dari strategi Multi-Pathway Approach (MPA) Toyota.

Strategi ini mencakup pengembangan berbagai solusi seperti mobil listrik murni (BEV), hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), hidrogen fuel cell, serta bahan bakar sintetis dan biofuel untuk mesin pembakaran dalam (ICE).

Keiji Kaita, Presiden Pusat Pengembangan Rekayasa Mesin Netral Karbon TMC, menyatakan sebagian besar mesin berbahan bakar bensin Toyota saat ini sudah siap menggunakan campuran etanol.

Langkah Toyota ini sejalan dengan kebijakan energi sejumlah negara, termasuk Indonesia, yang tengah mempersiapkan aturan kewajiban penggunaan bensin campuran etanol 10 persen (B10) mulai 2027.

Dengan memperkuat riset etanol non-pangan, Toyota berupaya menekan jejak karbon kendaraan dan membuka peluang kolaborasi lintas sektor antara industri otomotif dan pertanian berkelanjutan.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *