Berita

Korut Tolak Ajakan Trump: Dialog Nuklir Kembali Terancam Gagal?

110
×

Korut Tolak Ajakan Trump: Dialog Nuklir Kembali Terancam Gagal?

Sebarkan artikel ini
b8e6b63185c7dbddc20e3fbe5b98bdb0.jpg
b8e6b63185c7dbddc20e3fbe5b98bdb0.jpg

New York – Korea Utara (Korut) menegaskan tidak akan pernah meninggalkan program senjata nuklirnya. Sikap tegas ini disampaikan oleh seorang diplomat senior Korut dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Senin (29/9/2025), meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump telah menunjukkan minat untuk kembali berunding dengan Pyongyang.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Korut Kim Son Gyong menyatakan bahwa upaya denuklirisasi negaranya “sama dengan menuntutnya menyerahkan kedaulatan, hak untuk hidup, dan melanggar Konstitusi.” Ini merupakan kali pertama sejak 2018 Korut mengirim diplomat senior dari Pyongyang untuk berbicara di forum tahunan PBB tersebut.

“Kami tidak akan pernah menyerahkan nuklir, yang merupakan hukum negara, kebijakan nasional, dan kekuatan kedaulatan kami,” ucap Kim. Ia menambahkan, “Dalam kondisi apa pun, kami tidak akan bergeser dari posisi ini.”

Pernyataan tersebut muncul sepekan setelah media resmi Korut mengutip pemimpin Kim Jong-un yang menyebut masih memiliki “kenangan baik” terhadap Trump. Menurut media pemerintah, Kim Jong-un juga mengatakan kepada parlemen pada 21 September bahwa ia tidak melihat “alasan” menolak kembali berdialog dengan AS jika Washington meninggalkan tuntutan agar Pyongyang melepaskan senjata nuklirnya.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump bertemu langsung dengan Kim Jong-un sebanyak tiga kali di Singapura, Vietnam, dan desa gencatan senjata (DMZ) Panmunjom, antara 2018 dan 2019.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump berulang kali memuji pertemuan itu dan menyatakan kesediaan melanjutkan diplomasi dengan Pyongyang. Namun, meskipun komentarnya terhadap AS pada Senin itu relatif lunak, Kim Son Gyong menuding AS serta dua sekutunya, Jepang dan Korea Selatan, menargetkan Korut dan memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea.

Ia mengecam kerja sama pertahanan jangka panjang serta latihan militer rutin ketiga negara itu. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun menggelar pertemuan trilateral di New York di sela sidang PBB.

Meski Kim Jong-un sempat membuka peluang dialog, ketiga diplomat tersebut menegaskan kembali “komitmen tegas” mereka untuk denuklirisasi penuh Korut.