Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar forum dialog antara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dengan para guru Bahasa Indonesia dan mahasiswa calon guru, sebagai upaya menjemput aspirasi untuk mentransformasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Kegiatan bertajuk “Pak Menteri Menyapa Guru Bahasa Indonesia” tersebut mengundang 250 peserta luring yang terdiri dari guru bahasa Indonesia se-Jabodetabek, mahasiswa, dan pejabat terkait.
“Poin saya bagaimana mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia itu dengan mudah dan menyenangkan, sehingga kami melihat perlu adanya pengembangan strategi mengajar para guru Bahasa Indonesia,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa.
Mu’ti menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari semangat untuk mentransformasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang selama ini cenderung normatif dan kurang inovatif.
Ia menilai kurangnya pendekatan kreatif dalam proses belajar mengajar berdampak pada rendahnya motivasi siswa dalam mempelajari karya sastra sebagai sarana pembentukan karakter dan empati yang positif.
Pembelajaran yang seharusnya mampu menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia, menurut Mu’ti, belum mencapai hasil yang diharapkan.
Hal ini sejalan dengan data Asesmen Nasional 2024 yang menunjukkan bahwa kompetensi literasi membaca siswa masih berada di bawah ambang ideal.
Selain itu, hasil Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) tahun 2021 hingga 2024 juga memperlihatkan bahwa mayoritas siswa SMP, SMA, dan SMK belum mencapai tingkat kemahiran yang memadai.
“Fakta-fakta ini menegaskan perlunya langkah nyata untuk merevitalisasi pembelajaran bahasa Indonesia secara menyeluruh. Melalui kegiatan ini kami berharap lahir pemahaman bersama mengenai arah kebijakan pendidikan bahasa dan sastra, sekaligus menjadi wadah untuk menampung aspirasi dari lapangan,” imbuhnya.
Kegiatan ini, sebagai bagian dari komitmen Kemendikdasmen, menegaskan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia tidak hanya sebatas penguasaan tata bahasa, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan penguatan kemampuan berpikir kritis. (*)







