Ecozone

Investor Perlu Lebih Selektif Memilih Saham Saat Asing Lepas Rp2,9 Triliun

12
×

Investor Perlu Lebih Selektif Memilih Saham Saat Asing Lepas Rp2,9 Triliun

Sebarkan artikel ini
cc287462af4d987bc0a247f8a91f41e0.jpg
cc287462af4d987bc0a247f8a91f41e0.jpg

Jakarta, Fenesia.com – Pasar saham Indonesia menghadapi tantangan berat akibat arus keluar dana asing yang mencapai Rp 2,9 triliun sepanjang periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026.

Tekanan jual masif ini menahan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akhirnya ditutup melemah 0,35 persen ke level 5.875.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menyatakan bahwa fenomena tersebut mencerminkan sikap kehati-hatian investor global terhadap instrumen investasi di dalam negeri.

“Investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 2,9 triliun dalam sepekan. Ini menunjukkan sentimen terhadap pasar saham domestik masih cenderung berhati-hati,” ucap Hari dalam risetnya, Senin (6/7/2026).

Selain tekanan dari luar, IHSG juga terbebani oleh indikator ekonomi domestik yang kurang menggembirakan.

Aktivitas manufaktur nasional pada Juni 2026 kembali mengalami kontraksi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di angka 46,9.

Kondisi tersebut diperburuk dengan kenaikan inflasi tahunan ke level 3,34 persen dari sebelumnya 3,08 persen pada Mei.

Lonjakan inflasi ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar mengenai daya beli masyarakat dan arah kebijakan suku bunga acuan ke depan.

Dari sisi eksternal, pasar masih menunggu kejelasan mengenai kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed, melalui risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Meskipun data ketenagakerjaan AS yang lemah sempat meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga, investor memilih untuk tetap bersikap defensif.

Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyoroti adanya ancaman domestik tambahan bagi pasar modal.

“Sentimen domestik masih dibayangi defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020, kontraksi aktivitas manufaktur, serta peringatan Fitch Ratings terkait penurunan cadangan devisa,” ujar Liza dalam kajiannya, Senin (6/7/2026).

Liza menambahkan bahwa pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus pada aset-aset berisiko setelah ekspektasi kenaikan suku bunga AS cenderung menurun.

“Pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan meningkatkan posisi pada aset berisiko,” kata Liza.

Terkait arah pasar jangka pendek, pelaku pasar kini memantau ketat data ekonomi seperti cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, serta penjualan ritel dari Bank Indonesia.

Strategi investasi yang disarankan oleh analis saat ini adalah tetap menerapkan prinsip defense first atau mengutamakan pertahanan.

Investor diminta untuk menghindari aksi averaging down secara agresif dan memprioritaskan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memiliki likuiditas tinggi.

“Strategi yang paling prudent saat ini adalah defense first. Hindari averaging down secara agresif, gunakan strategi masuk bertahap, dan prioritaskan saham-saham big caps yang likuid,” tutur Hari.

Selain pasar saham, investor dengan profil risiko konservatif disarankan untuk melirik obligasi pemerintah seri FR106 dan FR101.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak juga mulai memperketat pengawasan pada sektor ekonomi digital guna memperluas basis pajak mulai 1 Agustus 2026.

Kebijakan ini melibatkan pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen atas omzet pedagang marketplace yang memiliki pendapatan di atas Rp 4,8 miliar per tahun.

Sementara itu, pergerakan IHSG pada Senin pagi sempat menunjukkan pemulihan dengan dibuka menguat 17,50 poin ke posisi 5.893,28, didorong oleh optimisme pasar global terhadap kebijakan dovish The Fed.