Ekonomi

BBM, El Nino, dan Tahun Ajaran Baru Bayangi Inflasi Semester II

19
×

BBM, El Nino, dan Tahun Ajaran Baru Bayangi Inflasi Semester II

Sebarkan artikel ini
faf956966b66dd88e94d9235cae0c9d4.jpg
faf956966b66dd88e94d9235cae0c9d4.jpg

Jakarta – Tren kenaikan harga barang dan jasa diprediksi akan terus membayangi stabilitas ekonomi domestik sepanjang semester kedua tahun 2026.

Kekhawatiran tersebut muncul seiring dengan angka inflasi tahunan per Juni 2026 yang menyentuh level 3,34 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya berada di angka 1,87 persen.

Secara bulanan, tingkat inflasi tercatat sebesar 0,44 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,79 persen hingga Juni.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa tekanan harga terutama dipicu oleh kelompok transportasi serta sektor makanan dan minuman.

Sejumlah komoditas utama seperti bensin, beras, cabai rawit, hingga biaya sekolah menjadi pendorong utama kenaikan indeks harga konsumen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pemerintah perlu mewaspadai efek domino dari berbagai kebijakan ekonomi yang diambil.

Ia menyoroti kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax, sebagai faktor yang memicu tekanan inflasi pada paruh kedua tahun ini.

“Secara tahunan memang sudah lebih dari 3 persen. Akan tetapi, untuk menganalisis inflasi juga perlu melihat year-to-date. Sampai Juni angkanya sekitar 1,79 persen dan jika bicara target inflasi pemerintah, sebenarnya masih berada dalam kisaran target,” ujar Yusuf dalam diskusi media, Kamis (2/7).

Yusuf menambahkan bahwa kenaikan harga BBM memberikan second round effect terhadap harga barang dan jasa lainnya secara luas.

Risiko inflasi diperkirakan semakin berat dengan adanya ancaman fenomena cuaca ekstrem El Nino yang diprediksi memuncak pada September hingga Oktober.

Kondisi iklim tersebut berpotensi mengganggu siklus produksi pangan nasional sehingga harga komoditas pokok sulit dikendalikan.

Selain itu, tekanan musiman dari biaya pendidikan di awal tahun ajaran baru juga menjadi tantangan tersendiri bagi daya beli masyarakat.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, turut menyoroti tingginya inflasi bulanan sebesar 0,44 persen pada Juni yang berada di atas rata-rata historis.

“Biasanya inflasi Juni secara bulanan hanya sekitar 0,1 persen. Jadi angka 0,44 persen ini jauh lebih tinggi dibandingkan kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya,” kata Faisal.

Faisal menilai bahwa dampak kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi ternyata lebih besar daripada proyeksi awal pemerintah.

Peningkatan konsumsi Pertamax di masyarakat membuat pergeseran harga BBM nonsubsidi kini memiliki korelasi yang lebih kuat terhadap inflasi pangan.

Penurunan stok beras pasca panen raya juga memperburuk kondisi harga pangan di pasar tradisional maupun ritel modern.

Jika berbagai tekanan ini terus berlanjut tanpa mitigasi yang tepat, inflasi di akhir tahun diprediksi akan berada di batas atas target Bank Indonesia.

“Nah itu berarti total satu tahun itu berapa? 3,6 persen. Sudah lewat dari BI. Jadi akhir tahun sangat mungkin di batas atas BI atau lebih, tergantung nanti ada peristiwa lagi ke depan yang akan mempengaruhi inflasi,” jelas Faisal.

Pemerintah kini dituntut untuk menyiapkan langkah antisipasi agar daya beli masyarakat tidak tergerus lebih dalam oleh inflasi yang tidak terkendali.