Berita

NASA Siapkan Anggaran Rp538 Triliun untuk Bangun Pangkalan Permanen di Bulan

10
×

NASA Siapkan Anggaran Rp538 Triliun untuk Bangun Pangkalan Permanen di Bulan

Sebarkan artikel ini
usai-misi-artemis,-nasa-kini-bersiap-bangun-pangkalan-di-bulan
usai misi artemis, nasa kini bersiap bangun pangkalan di bulan

Jakarta – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tengah mematangkan rencana strategis untuk membangun pangkalan permanen di Bulan. Proyek ambisius ini diperkirakan menelan biaya mencapai US$30 miliar atau setara Rp538 triliun, yang menjadi langkah nyata Amerika Serikat dalam memperkuat dominasi di luar angkasa di tengah kompetisi yang semakin ketat dengan China.

Sebagai langkah awal, NASA telah menggelontorkan kontrak senilai US$590 juta kepada tiga perusahaan swasta, yakni Astrobotic, Firefly, dan Intuitive Machines. Kerja sama ini mencakup empat misi pengiriman instrumen sains serta kargo menuju permukaan Bulan, dengan Astrobotic tercatat sebagai vendor yang memperoleh dua kontrak sekaligus.

Seluruh misi tersebut terangkum dalam “Fase 1” pembangunan permukiman Bulan yang ditargetkan rampung pada 2028 dengan estimasi biaya US$10 miliar. Pembangunan kemudian akan berlanjut pada fase kedua dan ketiga di dekade 2030-an, yang mencakup pendirian habitat bertekanan serta instalasi generator listrik.

NASA menaruh harapan besar bahwa proyek ini dapat memfasilitasi astronaut untuk menghuni permukiman semi-permanen di Bulan. Untuk mendukung infrastruktur robotik sebelum kehadiran manusia, lembaga tersebut juga mempertimbangkan penggunaan kembali rover Mars yang dinamai Promise.

Kendati demikian, ambisi besar ini bukannya tanpa kendala teknis. Blue Origin, perusahaan milik Jeff Bezos, mengalami kemunduran setelah roket New Glenn meledak saat berada di landasan peluncuran pada Mei lalu. Peristiwa tersebut berpotensi menunda peluncuran lander robotik Blue Moon menuju kutub selatan Bulan.

Terkait kondisi tersebut, eksekutif program Moon Base NASA, Carlos García-Galán, menyatakan bahwa pihaknya tengah menjajaki opsi peluncuran lain jika diperlukan.

“Kami sedang melihat opsi lain,” ujarnya.

Wilayah kutub selatan Bulan menjadi prioritas utama pendaratan karena menyimpan cadangan es air yang sangat krusial. Sumber daya tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai air minum serta bahan bakar roket. Hingga saat ini, Firefly sukses melakukan pendaratan penuh melalui wahana Blue Ghost, sementara Intuitive Machines sempat menemui kendala teknis saat proses pendaratan landernya.

Dalam gelaran Space Symposium pada April lalu, García-Galán kembali menegaskan komitmen jangka panjang NASA.

“Jika kamu berada di industri dan bertanya-tanya apakah perlu melakukan investasi untuk meningkatkan kapasitas fasilitas dan jaringan rantai pasok – ini adalah sinyal untuk mengatakan: kami hadir untuk jangka panjang, dan kami sedang membangun pangkalan di Bulan,” tuturnya.

Proyek pembangunan pangkalan ini merupakan bagian integral dari program Artemis yang telah menelan dana sekitar US$100 miliar. NASA bahkan melakukan penyesuaian anggaran, termasuk mengalihkan dana sebesar US$2,6 miliar dari proyek stasiun luar angkasa lunar Gateway yang dihentikan pada Maret lalu agar dapat difokuskan pada infrastruktur langsung di permukaan Bulan.

Di sisi lain, tantangan teknologi yang dihadapi masih tergolong besar. Para ahli menyoroti berbagai persoalan mendasar yang belum terpecahkan, termasuk penentuan standar waktu di Bulan di mana perputaran detik berlangsung sedikit lebih cepat dibandingkan di Bumi.