Ecozone

Kisah Tiga Dekade Gajah Indra Mengabdi di Way Kambas Berakhir

11
×

Kisah Tiga Dekade Gajah Indra Mengabdi di Way Kambas Berakhir

Sebarkan artikel ini
985291223a84b9d105e5d94efd0c29dd.jpg
985291223a84b9d105e5d94efd0c29dd.jpg

Lampung Timur – Dunia konservasi satwa di Indonesia kehilangan salah satu sosok penting dalam upaya perlindungan Gajah Sumatra. Gajah jinak bernama Indra, yang telah mengabdi selama lebih dari tiga dekade, dilaporkan mati pada Senin (22/6) di kawasan Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Gajah jantan berusia 42 tahun ini merupakan satwa yang memiliki rekam jejak panjang dalam sejarah konservasi di Provinsi Lampung. Bergabung dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK sejak 1995, Indra dikenal sebagai gajah yang tangguh dan memiliki peran vital dalam berbagai operasi lapangan.

Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, mengungkapkan duka mendalam atas kepergian satwa tersebut. Menurutnya, Indra bukan sekadar satwa binaan, melainkan mitra kerja yang telah memberikan kontribusi besar bagi kelestarian gajah di Sumatra.

Zaidi menyebut bahwa dedikasi Indra dalam menangani berbagai kegiatan lapangan, termasuk penanganan konflik antara satwa liar dan manusia, sangatlah berarti. Selama masa aktifnya, Indra terlibat dalam banyak operasi krusial, mulai dari patroli perlindungan kawasan hingga proses evakuasi gajah liar.

Namun, kondisi kesehatan Indra dilaporkan terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan fisik tersebut diduga merupakan dampak dari kecelakaan lalu lintas yang dialami Indra pada 2017 silam saat ia sedang dalam perjalanan menjalankan tugas penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan.

Kecelakaan tersebut mengakibatkan trauma fisik yang serius bagi sang gajah. Hasil pemeriksaan medis saat itu mengindikasikan adanya gangguan pada ruas tulang belakang atau suspect ruptur os vertebrae. Kondisi ini secara bertahap membatasi ruang gerak dan memengaruhi kesehatan umum Indra hingga akhirnya ia harus dipensiunkan dari tugas lapangan.

Sejak mengalami cedera tersebut, tim dokter hewan dan perawat satwa di TNWK memberikan perhatian khusus. Mereka melakukan perawatan intensif, terapi rutin, serta pemantauan harian guna menjaga kualitas hidup Indra. Namun, seiring bertambahnya usia, kondisi fisik gajah tersebut tidak lagi mampu pulih sepenuhnya.

Peristiwa kematian terjadi pada Minggu (21/6) sore saat Indra sedang menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa. Saat hendak diarahkan kembali menuju kandang, Indra tiba-tiba ambruk dan tidak mampu berdiri kembali.

Mahout Siswo bersama tim rescue segera melakukan upaya pertolongan darurat dengan bantuan gajah jinak lainnya. Meski sempat berhasil didudukkan selama beberapa menit, Indra kembali rebah karena kondisi fisiknya yang sudah sangat lemah.

Medan rawa yang sulit menyulitkan proses evakuasi ke fasilitas medis utama. Akibatnya, tim dokter hewan melakukan penanganan intensif langsung di lokasi kejadian. Setelah berjuang selama lebih dari 20 jam, Indra akhirnya dinyatakan mati pada Senin (22/6) pukul 11.06 WIB.

Sesuai dengan standar operasional prosedur medis, tim medis melakukan tindakan nekropsi tiga jam setelah kematiannya. Langkah ini diambil untuk memenuhi akuntabilitas ilmiah terkait penyebab kematian satwa tersebut.

Sejumlah sampel organ telah diambil untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Data tersebut diharapkan dapat memberikan informasi komprehensif mengenai faktor klinis yang mempercepat penurunan kondisi kesehatan Indra.

Usai seluruh rangkaian pemeriksaan medis selesai, bangkai Gajah Indra dimakamkan di lokasi khusus di dalam kawasan TNWK. Pihak balai menyatakan penghormatan setinggi-tingginya atas seluruh pengabdian yang telah diberikan Indra selama hidupnya untuk konservasi gajah di Indonesia.