BeritaPeristiwa

Lima Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Latihan, Kemenhan Ungkap Kronologi

16
×

Lima Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Latihan, Kemenhan Ungkap Kronologi

Sebarkan artikel ini
a11f692af544f4489b5512debc112782.jpg
a11f692af544f4489b5512debc112782.jpg

Jakarta – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengonfirmasi kabar duka terkait meninggalnya lima orang peserta latihan dasar militer (latsarmil) yang tergabung dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Para peserta tersebut sebelumnya tengah mengikuti rangkaian kegiatan bela negara dan manajerial sebagai calon manajer program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan Kemenhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya kelima peserta tersebut.

Ia menegaskan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur standar yang berlaku, baik di fasilitas kesehatan satuan pendidikan maupun melalui rujukan ke rumah sakit terdekat.

Ketut menjelaskan, sebelum mengikuti program, seluruh peserta sebenarnya telah melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan komprehensif.

Tahapan tersebut mencakup tes laboratorium darah dan urine, rontgen toraks, rekam jantung (EKG), hingga pemeriksaan kesehatan jiwa.

Namun, dalam pelaksanaannya, masing-masing peserta memiliki kondisi medis yang bervariasi saat mengalami gangguan kesehatan di lapangan.

Detail kronologi menunjukkan bahwa para peserta meninggal dalam kurun waktu yang berbeda dengan diagnosa medis yang beragam.

Peserta pertama, Yonanda Muhammad Taufik, meninggal dunia akibat henti jantung atau cardiac arrest di Baturaja pada 17 Juni 2026.

Sementara itu, Anisya Musyarofah di Balikpapan dinyatakan meninggal dunia pada 18 Juni 2026 akibat serangan panas atau heat stroke.

Kasus lainnya melibatkan faktor infeksi dan kondisi medis bawaan. Novia Ramadani Sitorus meninggal dunia pada 23 Juni 2026 karena komplikasi tuberkulosis paru aktif.

Selanjutnya, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal pada 26 Juni 2026 akibat pneumonia yang disertai komplikasi hipertensi dan obesitas. Peserta kelima, Nola Dya Sari, meninggal dunia di Singkawang pada 26 Juni 2026 setelah sempat mengalami henti jantung saat menjalani perawatan intensif.

Menanggapi insiden ini, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah memberikan instruksi tegas terkait evaluasi penyelenggaraan latihan.

Kemenhan kini diwajibkan untuk memperkuat pengawasan medis di seluruh satuan pendidikan, termasuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi peserta yang memiliki risiko kesehatan tertentu.

Selain memperketat protokol medis, Kemenhan juga mulai menyesuaikan intensitas kegiatan fisik agar lebih selaras dengan kondisi fisik peserta di lapangan.

Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan dini terhadap potensi risiko kesehatan yang tidak terduga selama masa pendidikan berlangsung.

Sebagai langkah kolaboratif, pihak Kemenhan kini tengah menjalin koordinasi intensif dengan Kementerian Kesehatan.

Kerja sama ini difokuskan pada pemberian asistensi medis, terutama dalam aspek deteksi dini dan penanganan penyakit menular atau infeksi saluran pernapasan di lingkungan pendidikan militer.

Evaluasi mendalam terhadap seluruh riwayat medis peserta juga masih terus dilakukan guna memastikan prosedur penyelenggaraan kegiatan ke depan berjalan lebih aman dan terukur.