Jakarta – Kinerja keuangan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mengalami kontraksi sepanjang kuartal I-2026. Emiten produsen batubara yang berafiliasi dengan Grup Sinar Mas ini mencatatkan penurunan pendapatan serta laba bersih dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha GEMS pada kuartal pertama tahun ini mencapai US$ 582,60 juta. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 10,14 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari perolehan US$ 648,34 juta pada periode yang sama tahun 2025.
Distribusi pendapatan GEMS pada tiga bulan pertama 2026 didominasi oleh pasar luar negeri dengan nilai US$ 342,05 juta. Sementara itu, penjualan di pasar domestik menyumbang pendapatan sebesar US$ 240,54 juta. Mayoritas pendapatan ini diperoleh dari pihak ketiga yang mencapai US$ 574,43 juta, sedangkan transaksi dengan pihak berelasi tercatat sebesar US$ 8,17 juta.
Di sisi lain, perusahaan berhasil melakukan efisiensi pada pos beban. Beban pokok penjualan turun 3,21 persen yoy menjadi US$ 386,03 juta, dari sebelumnya US$ 398,85 juta. Beban usaha perusahaan juga terpangkas 14,60 persen yoy menjadi US$ 89,36 juta dari posisi sebelumnya US$ 104,64 juta.
Meski beban berhasil ditekan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tetap tergerus. Laba bersih GEMS tercatat sebesar US$ 79,90 juta, atau menyusut 29,45 persen dibandingkan laba bersih pada kuartal I-2025 yang mencapai US$ 113,47 juta.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa perlambatan kinerja pada awal tahun dipicu oleh dua faktor utama. Pertama adalah koreksi harga batubara dari level puncaknya, dan kedua adalah keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk produksi batubara.
Wafi menilai, GEMS masih memiliki peluang untuk memperbaiki kinerja keuangan pada semester II-2026. Hal tersebut sangat bergantung pada realisasi kebijakan relaksasi RKAB serta kemampuan perusahaan dalam mengejar ketertinggalan volume produksi.
“Target produksi dan penjualan sekitar 54 juta hingga 58 juta ton memang cukup ambisius. Namun, target tersebut masih bisa dicapai jika RKAB disetujui penuh dan akselerasi produksi pada kuartal II hingga kuartal III berjalan lancar,” ujar Wafi pada Jumat (19/6/2026).
Ia menambahkan, jika relaksasi RKAB kembali mengalami keterlambatan, terdapat risiko target produksi meleset di kisaran 10 persen hingga 15 persen. Selain itu, sentimen kebijakan ekspor sumber daya alam terpusat dan potensi revisi tarif royalti menjadi faktor yang dapat menekan margin perusahaan.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, menyoroti dinamika harga komoditas global sebagai tantangan bagi GEMS. Mengingat batubara merupakan komoditas energi substitusi, tren pelemahan harga minyak dunia akibat meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi menekan harga batubara.
Kiswoyo menekankan pentingnya efisiensi di segala lini usaha untuk menjaga profitabilitas. Menurutnya, perusahaan harus mampu mengompensasi risiko penurunan harga dengan menjaga volume produksi dan penjualan tetap tinggi. Terkait prospek investasi, ia menyebut saham GEMS layak dicermati oleh investor dengan target harga wajar di level Rp 7.500 per saham.







