BeritaPemerintahan

Inggris Larang Anak di Bawah 16 Tahun Akses Media Sosial

15
×

Inggris Larang Anak di Bawah 16 Tahun Akses Media Sosial

Sebarkan artikel ini
inggris-punya-‘pp-tunas,’-larang-medsos-buat-anak-di-bawah-16-tahun
inggris punya ‘pp tunas,’ larang medsos buat anak di bawah 16 tahun

Jakarta – Inggris akan melarang anak-anak di bawah usia 16 tahun mengakses media sosial. Kebijakan itu diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Keir Starmer dari Downing Street.

Starmer menyebut langkah tersebut sebagai warisan terpenting masa kepemimpinannya. Inggris menjadi negara terbaru yang mengambil kebijakan serupa, setelah Australia dan Indonesia melalui PP Tunas membatasi akses media sosial bagi anak-anak.

Larangan ini akan berlaku untuk seluruh platform media sosial utama. Pemerintah juga menyiapkan pembatasan terpisah untuk produk daring seperti aplikasi gim, termasuk penghapusan opsi obrolan dengan orang asing.

Starmer mengakui kebijakan yang akan diterapkannya tidak bebas risiko. Ia menegaskan pemerintah tidak bisa berpura-pura bahwa media sosial tidak memiliki manfaat bagi anak muda.

“Saya tidak akan menyajikannya seolah tanpa konsekuensi, seolah media sosial tidak membawa manfaat apa pun bagi anak-anak muda, karena jelas itu salah,” ujarnya.

“Tapi pemerintahan selalu soal pilihan, dan bagi saya, larangan total adalah pilihan yang tepat,” tambahnya.

Menanggapi kekhawatiran bahwa banyak remaja akan mencari celah untuk tetap mengakses media sosial, seperti yang terjadi di Australia, Starmer menolak pandangan tersebut. Ia membandingkannya dengan larangan penjualan alkohol untuk anak-anak.

“Kita tidak bilang, ‘Oh, seorang remaja berhasil mendapatkan minuman keras, jadi tidak perlu melarang penjualan alkohol untuk anak-anak.’ Kita tidak melakukan itu, bukan?” katanya.

Ia juga menegaskan aturan hukum bukan sekadar regulasi, melainkan cerminan nilai-nilai masyarakat.

“Hukum kita adalah aturan, tapi juga cerminan nilai-nilai kita,” imbuhnya.

Starmer menargetkan legislasi selesai sebelum akhir tahun ini. Larangan resmi dijadwalkan mulai berlaku pada musim semi tahun depan.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan kebijakan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap teknologi. Ia menolak anggapan bahwa demi masa depan AI dan teknologi, anak-anak harus terus terekspos seperti selama ini.

“Saya tidak akan pernah menerima argumen bahwa demi masa depan AI dan teknologi, kita harus membiarkan anak-anak kita terekspos seperti yang terjadi selama ini,” tuturnya.

Pengumuman tersebut disampaikan di hadapan sejumlah pegiat yang selama ini mengampanyekan larangan itu, termasuk para orang tua yang kehilangan anak mereka.

Survei pemerintah Inggris menunjukkan sembilan dari sepuluh orang tua mendukung batas usia minimum 16 tahun untuk mengakses platform media sosial.