Ecozone

Bursa Asia Terkoreksi, Serangan Baru Amerika Serikat Dongkrak Harga Minyak

17
×

Bursa Asia Terkoreksi, Serangan Baru Amerika Serikat Dongkrak Harga Minyak

Sebarkan artikel ini
5b94bded50db645f49e466712b986623.jpg
5b94bded50db645f49e466712b986623.jpg

Jakarta – Bursa saham di kawasan Asia mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh akumulasi kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi serta eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Data pasar menunjukkan indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang terkoreksi sebesar 0,9 persen. Penurunan paling tajam dialami oleh bursa Korea Selatan, di mana indeks KOSPI tercatat anjlok hingga 3 persen. Sementara itu, kontrak berjangka indeks S&P 500 juga melemah 0,3 persen, mencerminkan kehati-hatian investor dalam memposisikan aset mereka.

Situasi geopolitik global memanas setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target di Iran pada Rabu (10/6) malam. Langkah ini diambil menyusul ancaman Presiden Donald Trump yang akan melakukan aksi lanjutan jika kesepakatan damai tidak tercapai. Sebagai bentuk respons, Iran mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi vital bagi dunia.

Dampak langsung dari penutupan tersebut terlihat pada harga minyak Brent yang melonjak 2 persen menjadi US$ 94,93 per barel di awal perdagangan Asia. Kenaikan harga energi ini menambah beban bagi pasar saham yang sebelumnya sudah tertekan oleh data inflasi Amerika Serikat untuk periode Mei 2026. Data tersebut menunjukkan angka inflasi mencapai level tertinggi sejak April 2023, yang memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Analis menyoroti bahwa saham-saham sektor teknologi di Asia, yang sempat mencatatkan reli dalam dua bulan terakhir, kini menjadi sasaran aksi jual. Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan laba emiten teknologi yang selama ini menjadi motor penggerak kenaikan harga saham.

Strategis Kuantitatif Asia Bernstein, Rupal Agarwal, menilai bahwa valuasi saham teknologi di sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Taiwan sudah berada pada level yang terlalu tinggi. Menurutnya, harapan pasar terhadap pertumbuhan laba sudah sangat optimistis, sehingga kondisi valuasi yang mahal membuat saham-saham tersebut sangat rentan terhadap koreksi lebih dalam. Agarwal menambahkan dalam catatannya bahwa ketegangan geopolitik yang kembali meningkat akan mempercepat aksi pelepasan saham oleh pelaku pasar.

Di pasar valuta asing, indeks dolar Amerika Serikat bertahan kuat di level 100,03. Permintaan terhadap aset safe haven mendorong nilai tukar dolar ke posisi tertinggi sejak dimulainya negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada awal April lalu.

Pasar kini mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026 meningkat menjadi 51,6 persen, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 50,1 persen. Kondisi ini turut berdampak pada imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang naik 2,6 basis poin ke level 4,564 persen.

Sementara itu, pasar komoditas dan aset digital turut menunjukkan tren pelemahan. Harga Bitcoin turun 0,5 persen ke level US$ 61.445,19, sementara Ether melemah 0,6 persen menjadi US$ 1.619,04. Emas spot juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 0,3 persen menjadi US$ 4.059,59 per ons troi, tertekan oleh ekspektasi suku bunga tinggi dan lonjakan harga energi global.

a3c2dd882a9687ea079dcb420a7856e6.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) anjlok pada Kamis (11/6/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.689.000. Harga emas Antam itu anjlok Rp 24.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (10/6/2026) yang berada di level Rp 2.713.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.395.000 per gram. Harga…

644d66f57c49d03d301ec7f2b8e586f3.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif namun masih menguat pada awal perdagangan Kamis (11/6), di tengah pelemahan mayoritas bursa saham Asia yang tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan aksi jual saham teknologi global. Mengutip data RTI pukul 09.13 WIB, IHSG naik 0,19% atau 11,15 poin ke level 5.913,53. Sebanyak 257 saham menguat, 263 saham melemah, dan 199 saham bergerak…