Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan awal musim hujan di Indonesia akan dimulai pada akhir Oktober mendatang. Saat ini, mayoritas wilayah di Tanah Air masih berada dalam periode musim kemarau.
Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa musim hujan tahun ini bakal diwarnai oleh fenomena El Nino. Kondisi tersebut diprediksi berlangsung hingga awal Januari dan berpotensi menekan curah hujan, sehingga musim hujan kali ini diperkirakan lebih kering dari biasanya.
“El Nino khususnya memiliki signature pada wilayah tropis. Untuk wilayah Indonesia, kita terpengaruh untuk menekan curah hujan jadi kondisinya lebih kering pada bulan Juni hingga Januari pada umumnya,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers Perkembangan Musim Kemarau 2026 secara daring, Rabu (10/6).
Meski kondisi cenderung kering, ia menegaskan masyarakat perlu mencatat bahwa wilayah Indonesia akan tetap memasuki musim hujan pada akhir Oktober.
Ardhasena memastikan, penurunan curah hujan akibat dampak El Nino tersebut tidak akan mengganggu aktivitas yang membutuhkan air secara signifikan, termasuk di sektor pertanian.
Terkait detail prediksi musim hujan yang lebih spesifik, ia menyebut pihaknya belum dapat menyampaikannya saat ini. Informasi lengkap mengenai hal tersebut baru akan dirilis oleh BMKG pada Agustus mendatang.
Sementara itu, data monitoring BMKG hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik tercatat sebesar +1,0. Sementara di Samudera Hindia, indeks IOD berada pada angka -0,56.
Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur diketahui telah melewati batasan netral selama lima dasarian.
“BMKG memprediksi bahwa fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ungkapnya.
Ardhasena memaparkan, peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen. Sementara itu, untuk kategori kuat diprediksi mencapai 62 persen.
Di sisi lain, untuk wilayah Samudera Hindia, terdapat potensi terjadinya IOD Positif pada periode Juli hingga November 2026.
Menurutnya, fenomena El Nino tidak hanya memengaruhi iklim di Indonesia. Fenomena ini juga menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai belahan dunia lainnya dengan pola serta periode dampak yang bervariasi.







