Jakarta – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (ANTM) atau emas Antam terpantau terkoreksi pada perdagangan Selasa (2/6). Logam mulia ini turun sebesar Rp 25.000 per gram, yang membuat harga emas hari ini menjadi Rp 2.774.000 per gram, dari posisi sebelumnya di angka Rp 2.799.000 per gram.
Penurunan harga juga terjadi pada layanan buyback atau pembelian kembali. Harga buyback Antam saat ini dipatok di angka Rp 2.584.000 per gram, menyusut Rp 25.000 per gram dibandingkan harga sebelumnya yakni Rp 2.609.000 per gram.
Selisih antara harga jual dan harga buyback atau yang dikenal dengan istilah spread saat ini mencapai Rp 190.000 per gram. Investor perlu mewaspadai selisih harga yang cukup lebar ini, karena berdampak langsung pada potensi keuntungan jika emas dijual kembali dalam waktu dekat.
Melihat kondisi tersebut, investasi emas batangan Antam dinilai lebih ideal untuk instrumen jangka panjang. Investor diharapkan dapat menahan aset hingga kenaikan harga emas mampu menutupi selisih spread serta memberikan margin keuntungan.
Sebagai simulasi, investor yang membeli emas pada pertengahan hingga akhir tahun 2025 tercatat masih menikmati keuntungan signifikan. Contohnya, pembelian pada Juni 2025 memberikan potensi keuntungan hingga 35,64%, sementara pembelian pada September 2024 mencatatkan performa keuntungan mencapai 84,44%.
Sebaliknya, bagi investor yang baru melakukan pembelian dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, potensi kerugian masih membayangi. Berdasarkan perhitungan saat ini, pembelian emas pada Maret 2026 justru mencatatkan kerugian sebesar 17,58% akibat selisih harga beli dan harga buyback yang belum tertutup oleh kenaikan harga.
Penting bagi calon investor untuk memahami mekanisme dua harga ini sebelum melakukan transaksi. Harga jual adalah nilai yang dibayarkan pembeli saat mengakuisisi emas di gerai Logam Mulia, sedangkan harga buyback adalah nilai yang diterima pemilik saat menjual kembali emas tersebut ke Antam.
Memahami profil risiko dan selisih harga ini menjadi kunci utama agar investor tidak terjebak dalam penghitungan yang salah, terutama bagi mereka yang membutuhkan likuiditas dana secara mendadak dalam jangka pendek.







