Sleman – Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah melakukan investigasi mendalam terkait fenomena munculnya api misterius di kediaman Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta. Dalam sembilan hari terakhir, tercatat sebanyak 73 titik api muncul dan merusak berbagai perabotan rumah tangga.
Ketua Tim PKPE FT UGM, Alva Edy Tontowi, mengonfirmasi bahwa pihaknya berhasil menyaksikan langsung kemunculan api secara spontan saat melakukan peninjauan di lokasi, Senin (1/6).
“Ini adalah satu kejadian yang memang luar biasa ya, kita bisa lihat langsung,” ujar Alva di lokasi kejadian.
Saat pengamatan berlangsung, tim mendapati sebuah kaos tiba-tiba mengeluarkan asap dan tersulut api. Berdasarkan data alat pendeteksi gas, ditemukan peningkatan kadar senyawa Hidrogen (H2) di dalam kamar tersebut.
Alva menduga fenomena ini berkaitan dengan auto ignition atau pembakaran spontan, di mana suatu bahan memicu panasnya sendiri tanpa sumber api dari luar. “Tadi ada media kaos, kalau yang kejadian sebelumnya kan ada media-media yang lain dari plastik, dari yang lain-lain,” jelasnya.
Guru Besar Ilmu Vulkanologi FT UGM, Agung Harijoko, menambahkan bahwa gas hidrogen menjadi dugaan pemicu utama. Saat ini, tim tengah meneliti mekanisme pembentukan gas tersebut serta asal-usulnya, termasuk mengambil sampel air dari sumur, kolam limbah, hingga kamar mandi.
Temuan gas hidrogen ini melengkapi data sebelumnya mengenai keberadaan gas metana (CH4) di area tersebut. Guru Besar Teknik Kimia FT UGM, Sarto, menyatakan pihaknya terus mengumpulkan informasi untuk mencari sumber asli dari kemunculan senyawa-senyawa tersebut.
Sementara itu, pakar Teknik Elektro UGM, Iswandi, memastikan bahwa fenomena ini tidak berkaitan dengan gangguan kelistrikan atau medan elektromagnetik. Menurutnya, titik api muncul secara acak dan tidak memerlukan pemantik listrik.
Pemilik rumah, Fia, menyebutkan bahwa hingga Senin siang, ia dan keluarga telah mencatat sedikitnya 65 hingga 73 kali kemunculan titik api. Hingga kini, tim pakar masih terus melakukan observasi di lokasi untuk mendapatkan jawaban pasti atas fenomena tersebut.







