Jakarta – Kinerja industri asuransi jiwa menunjukkan tren positif pada kuartal I-2026 dengan mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp 7,85 triliun per Maret 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan signifikan mencapai Rp 3,96 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengungkapkan bahwa lonjakan laba tersebut didorong oleh efektivitas kanal distribusi bancassurance. Kanal ini berkontribusi paling besar terhadap total pendapatan premi industri asuransi jiwa yang mencapai Rp 47,12 triliun, dengan porsi 40,4 persen, sementara kanal keagenan menyumbang 17,6 persen.
Pertumbuhan kanal bancassurance dinilai masih menjadi mesin utama pertumbuhan premi karena dukungan jaringan distribusi perbankan yang luas serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan produk perlindungan yang terintegrasi. Ogi optimistis tren ini akan berlanjut seiring dengan akselerasi literasi keuangan dan transformasi digital.
Selain itu, sektor asuransi jiwa turut ditopang oleh kinerja Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI) atau unit link yang kembali menunjukkan perbaikan. Pendapatan premi unit link tercatat mencapai Rp 11,37 triliun, tumbuh 3,68 persen secara tahunan (yoy), sementara nilai klaim justru mengalami penurunan sebesar 7,99 persen (yoy) menjadi Rp 13,3 triliun.
Ogi menegaskan bahwa pemulihan kualitas bisnis PAYDI merupakan buah dari konsolidasi yang dilakukan sejak pemberlakuan SEOJK Nomor 5 Tahun 2022. Kebijakan ini mewajibkan penguatan praktik underwriting, seleksi risiko yang lebih ketat, serta transparansi manfaat produk kepada nasabah.
Guna menjaga keberlanjutan sektor ini, OJK kini tengah memproses peningkatan regulasi PAYDI dari level Surat Edaran menjadi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK).
Langkah ini mencakup diskusi mendalam dengan asosiasi industri untuk memperkuat perlindungan konsumen dan tata kelola produk. Meski pertumbuhan industri terpantau stabil, Ogi tetap mengingatkan pelaku usaha untuk menjaga kualitas pemasaran agar kesehatan industri tetap terjaga dalam jangka panjang.














