Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini dengan catatan kenaikan tipis sebesar 0,18% secara mingguan, meskipun sempat tertekan hebat pada perdagangan Jumat (8/5/2026) dengan penurunan 204,92 poin atau 2,86% ke level 6.969,4.
Ketidakpastian sentimen global menjadi faktor utama yang membatasi pergerakan pasar. Investor saat ini masih bersikap wait and see sembari memantau perkembangan geopolitik, terutama terkait konflik Iran-AS dan volatilitas harga minyak dunia.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menyebutkan bahwa harapan meredanya tensi di Timur Tengah sempat memberikan angin segar bagi pasar. Namun, belum solidnya sentimen tersebut membuat IHSG cenderung bergerak konsolidatif.
Selain isu geopolitik, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti sejumlah faktor domestik yang membayangi pasar. Selain pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, investor juga tengah mencermati rencana pemerintah mengenai kenaikan royalti mineral dan batu bara (minerba).
“Pemerintah berencana menaikkan royalti minerba untuk mendongkrak pendapatan negara, dan ini menjadi perhatian pelaku pasar saat ini,” ujar Herditya.
Memasuki perdagangan awal pekan depan, IHSG diprediksi masih akan bergerak fluktuatif. Ekky memperkirakan indeks akan berada di rentang 6.950 hingga 7.200, dengan dukungan level support kuat di kisaran 6.900–7.000.
Di sisi lain, analis melihat adanya potensi technical rebound pada perdagangan Senin (11/5/2026). Herditya memproyeksikan indeks akan bergerak dengan level support 6.946 dan resistance di 7.049.
Secara sektoral, pemulihan mulai tampak pada sektor perbankan dan telekomunikasi. Selain itu, saham emiten yang terafiliasi dengan grup Prajogo Pangestu dinilai layak untuk dicermati, meskipun strategi investasi yang disarankan saat ini adalah lebih selektif dengan fokus pada trading jangka pendek.
Untuk perdagangan mendatang, sejumlah saham direkomendasikan untuk dipantau, di antaranya MAPA dengan target harga Rp 695–Rp 725, AADI di rentang Rp 10.225–Rp 10.825, serta BULL dengan target harga Rp 520–Rp 555 per saham.







