Jakarta – Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran krisis energi global. Indonesia dinilai belum terdampak langsung, namun tekanan harga energi berpotensi membebani subsidi dan impor.
Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi, menyatakan hampir semua negara akan terdampak. Selat Hormuz adalah jalur utama distribusi minyak dunia.
Gangguan di jalur itu langsung memengaruhi stabilitas energi global. Filipina bahkan sudah menetapkan krisis energi dalam satu tahun.
Dampak paling cepat terasa adalah lonjakan harga minyak dunia. Sempat melampaui 100 dolar AS per barel, bahkan mencapai 115 dolar AS sebelum terkoreksi.
Kenaikan harga ini menjadi sinyal awal tekanan ekonomi global.
Untuk Indonesia, Fahmy menilai pasokan energi masih relatif aman dalam jangka pendek. Cadangan energi nasional diperkirakan cukup untuk 21 hari.
Produksi minyak domestik masih sekitar 600 ribu barel per hari. Kilang dalam negeri mampu menghasilkan sekitar 400 ribu barel bahan bakar per hari.
Namun, risiko tetap terbuka jika konflik berlangsung lebih lama.
“Dari segi pasokan, sampai sekarang relatif tidak terkena dampaknya. Kecuali nanti kalau perangnya berlarut-larut, barangkali juga akhirnya akan terkena dampaknya,” kata Fahmy.
Meski pasokan stabil, Fahmy mengingatkan tekanan terbesar datang dari sisi fiskal. Harga minyak global yang tinggi akan meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.
Asumsi harga minyak domestik jauh lebih rendah.
“Dalam asumsi APBN, harga minyak ditetapkan jauh lebih rendah, sehingga ketika harga dunia melonjak, beban subsidi otomatis meningkat,” jelas Fahmy.
Kondisi ini berpotensi memicu inflasi karena biaya energi meningkat dan impor energi menjadi lebih mahal. Kebutuhan devisa juga akan meningkat.
Kebutuhan pembayaran impor minyak dalam dolar AS meningkat.
“Karena kita butuh banyak dolar AS untuk membayar harga yang demikian tadi. Nah ini semakin memberikan beban yang cukup berat. Itu dampaknya,” imbuh Fahmy.
Selain minyak, Fahmy menyoroti risiko pasokan LPG nasional. Indonesia masih mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan LPG.
Sebagian besar berasal dari Timur Tengah yang pengirimannya melewati Selat Hormuz. “Jika jalur tersebut terganggu, pasokan LPG ke Indonesia berpotensi berkurang,” kata Fahmy.
Indonesia sebenarnya memiliki cadangan gas bumi yang cukup besar. Dapat dimanfaatkan sebagai substitusi LPG melalui jaringan pipa, jaringan gas kota, maupun pengolahan menjadi LNG.
“Jadi sekali lagi, di gas sekalipun Indonesia belum terkena dampak dari segi pasokan. Tapi dari segi harga itu ya pasti mengeluarkan uang lebih banyak,” pungkas Fahmy.












