Caracas – Serangan Amerika Serikat ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026) memicu kekhawatiran global. Di tengah situasi tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas memastikan keselamatan 50 Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di sana.
“Semua WNI dalam kondisi aman,” tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, dalam keterangan resminya.
Pemerintah Indonesia menyerukan agar semua pihak terkait mengutamakan perlindungan terhadap warga sipil.
“Kepada seluruh pihak terkait untuk mengedepankan penyelesaian secara damai melalui langkah de-eskalasi dan dialog,” lanjut Yvonne. Pemerintah juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB.
Serangan yang mengguncang Caracas dan wilayah sekitarnya seperti La Carlota, Fuerte Tiuna, serta Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira, menyebabkan pemadaman listrik dan terhentinya layanan transportasi Metro.
KBRI Caracas mengonfirmasi bahwa pemadaman listrik terjadi di beberapa wilayah, termasuk Cumbres de Curomo dan Prados del Este. Meskipun listrik di Cumbres de Curomo sudah kembali menyala pada Minggu sore waktu setempat, Prados del Este masih mengalami pemadaman.
Aktivitas masyarakat di ibu kota perlahan mulai pulih setelah sempat lumpuh akibat serangan. Sejumlah toko roti dan kedai kopi mulai beroperasi, dan warga berinisiatif membeli kebutuhan pokok sebagai persiapan jika situasi memburuk.
Dampak Serangan AS bagi Indonesia
Pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, menilai bahwa Indonesia berpotensi menjadi “negara korban dalam skenario yang sedang dibangun Trump” melalui serangan AS ke Venezuela.
Suzie menjelaskan bahwa Trump mengkategorikan negara-negara dalam tiga kelompok: negara adidaya, negara tidak demokratis dengan pengaruh, dan negara yang dimanipulasi. Indonesia, menurutnya, rawan masuk kategori ketiga dan dimanfaatkan.
“Kalau dikategorikan seperti itu, sangat membahayakan bagi Indonesia. Apalagi kita saat ini kurang pandai, kurang siap, dan sebagainya,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, memahami bahwa Indonesia cukup sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global sebagai negara pengimpor. Ia menilai penguasaan AS terhadap Venezuela dalam jangka panjang bisa menempatkan negara ini sebagai salah satu yang mendominasi sumber energi global, yang berisiko bagi Indonesia.
Hubungan Indonesia dan Venezuela
Indonesia dan Venezuela telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1959. Soekarno bahkan sangat populer di negara-negara Amerika Latin karena gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia Afrika.
Suzie Sudarman menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Venezuela sempat renggang pada masa Orde Baru, namun kembali dekat pasca reformasi. Meski demikian, Indonesia tetap berhati-hati dalam merespons situasi di Venezuela karena masih membutuhkan investasi dari AS.














