Berita

BGN Ungkap Ribuan Orang Keracunan MBG Sejak Awal 2025

179
×

BGN Ungkap Ribuan Orang Keracunan MBG Sejak Awal 2025

Sebarkan artikel ini
2372eb59fa40d43f9d6df0252ba5b456.jpg
2372eb59fa40d43f9d6df0252ba5b456.jpg

Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana melaporkan sebanyak 6.517 penerima manfaat program makan bergizi gratis (MBG) mengalami keracunan. Data ini tercatat sejak proyek MBG diluncurkan pada Januari 2025 hingga 30 September 2025.

Laporan tersebut disampaikan Dadan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 1 Oktober 2025. BGN memetakan kasus keracunan MBG di tiga wilayah, yakni Sumatera (Wilayah I), Pulau Jawa (Wilayah II), dan Indonesia Timur (Wilayah III).

Dadan merinci, kasus keracunan di Wilayah I mencatat 1.307 orang korban. Sementara di Wilayah II, terdapat 4.147 korban yang kemudian bertambah 60 orang dari Garut, sehingga totalnya menjadi 4.207 orang. Untuk Wilayah III, tercatat 1.003 korban keracunan.

Menurut Dadan, dominasi kasus keracunan di Wilayah II disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di kawasan tersebut selama dua bulan terakhir.

“Kami sudah mulai mencatat ada kejadian itu di 14 Januari, delapan hari dari pertama kali di-launching itu ada enam orang yang terdeteksi mengalami gangguan kesehatan,” ujar Dadan.

Kejadian terakhir yang dilaporkan terjadi pada 30 September di SPPG Cihampelas Pasar Rebo dengan 15 orang keracunan, yang kebetulan berasal dari satu kelas. Lalu ada 30 orang keracunan di Kadungora pada malam sebelumnya.

Dadan mengungkapkan temuan kasus keracunan meningkat tajam dalam dua bulan terakhir. Dari total 75 kasus keracunan yang dicatat BGN sejak peluncuran MBG, 51 kasus di antaranya terjadi antara 1 Agustus hingga 30 September 2025. Sedangkan periode 6 Januari hingga 31 Juli 2025 mencatat 24 kasus kejadian.

Peningkatan kasus ini, kata Dadan, berkaitan dengan tidak dipatuhinya standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh dapur-dapur MBG.

Ia mencontohkan, banyak dapur MBG yang membeli bahan baku empat hari sebelum makanan dibagikan, padahal seharusnya hanya dua hari sebelumnya. Selain itu, jangka waktu proses memasak hingga pengiriman makanan seharusnya tidak lebih dari enam jam, dengan optimal empat jam.

“Ada (SOP) yang kami tetapkan processing masak sampai delivery tidak lebih dari 6 jam, karena optimalnya di 4 jam,” ucap Dadan. Namun, BGN justru menemukan dapur yang memasak hingga 12 jam sebelum proses pengiriman.