Jakarta – Semangat perlawanan Pangeran Antasari, Sultan Banjar yang tak gentar melawan penjajah Belanda, terus membara hingga kini, 163 tahun setelah wafatnya.

Pangeran Antasari memilih gugur di medan perang pada 11 Oktober 1862 daripada menyerah kepada kolonialisme.

Lahir antara tahun 1797 dan 1809, Pangeran Antasari memimpin Kesultanan Banjar dan memicu Perang Banjar pada tahun 1859.

Perang ini dipicu oleh campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan dan eksploitasi sumber daya alam.

Kemarahan rakyat dan bangsawan memuncak ketika Belanda menyingkirkan Sultan Hidayatullah II dan mengangkat Pangeran Tamjidullah yang pro-Belanda.

Pada 18 April 1859, Pangeran Antasari memimpin serangan besar ke pos-pos Belanda, menyatukan berbagai elemen masyarakat, termasuk bangsawan, ulama, dan suku Dayak.

Pada 14 Maret 1862, Pangeran Antasari dinobatkan sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, pemimpin tertinggi agama dan kepala pemerintahan Kesultanan Banjar.

Gelar ini menegaskan perjuangannya sebagai jihad mempertahankan kedaulatan Banjar dan Islam.

Meski kondisi fisiknya melemah akibat medan perang, Pangeran Antasari tetap menolak menyerah hingga akhir hayatnya di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang (kini Murung Raya, Kalimantan Tengah).

Ia menderita sakit paru-paru dan cacar setelah pertempuran di Tundakan.

Pangeran Antasari menjadi simbol pemimpin yang tidak pernah tertangkap atau tertipu Belanda.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *