Jakarta – Kenaikan harga timah global memberikan dampak positif bagi penerimaan negara. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung.
Indonesia, sebagai salah satu pengekspor timah utama dunia, merasakan manfaat dari kenaikan harga ini.
“Dengan meningkatnya harga timah global, dari sisi penerimaan negara memberikan dampak positif peningkatan pendapatan,” ujar Wamen Yuliot, Selasa (27/1/2026).
Kementerian ESDM menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dan mencegah potensi penurunan harga timah.
Pengawasan terhadap aktivitas tambang ilegal dan upaya penyelundupan timah menjadi fokus utama.
“Harapannya, setiap target yang ditetapkan dapat tercapai,” kata Wamen Yuliot.
Sebelumnya, Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan bahwa lonjakan harga timah disebabkan oleh penertiban tambang ilegal.
Harga timah mengalami kenaikan signifikan dari 33 ribu dolar AS menjadi sekitar 50 ribu dolar AS.
Penertiban ini diharapkan dapat menekan angka penyelundupan timah.
Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam mempengaruhi sentimen global terkait harga komoditas.
“Saya rasa tetap sentimen global, bagaimanapun, ada pengaruh-pengaruh bangsa (Indonesia),” kata Tri.
London Metal Exchange (LME) mencatat harga timah pada 27 Oktober 2025 sebesar 36.435 dolar AS per ton.
Pada 26 Januari 2025, harga melonjak menjadi 55.005 dolar AS per ton.
Terjadi peningkatan harga komoditas sebesar 50,97 persen dalam waktu tiga bulan.







