Solo – Revitalisasi Keraton Surakarta senilai miliaran rupiah memicu perdebatan panas di internal keraton. Kubu SISKS Pakubuwono XIV Purbaya menyoal legitimasi Tim Lima, tim yang dibentuk pada awal 2025 atas arahan Menteri Kebudayaan saat itu, Fadli Zon.

GKR Timoer, tokoh dari kubu PB XIV Purbaya, menegaskan bahwa mendiang PB XIII tidak pernah memberikan persetujuan atas pencantuman namanya dalam Tim Lima.

“Ketika pembentukannya, beliau (PB XIII) tidak tahu. Dan dalam proses-proses selanjutnya juga tidak pernah dilibatkan,” ujar Timoer, Senin (15/12).

Timoer juga mengklaim bahwa PB XIII tidak pernah memberikan izin untuk revitalisasi keraton yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan.

“Izin pengerjaannya pun juga tidak ada. Kalaupun Tim Lima atau dinas-dinas ini sudah memberikan surat kepada kami, kami belum membalas,” imbuhnya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya menunggu restu dari Pakubuwono XIII sebelum memulai revitalisasi.

Menanggapi hal ini, juru bicara KGPA Panembahan Agung Tedjowulan, Kangjeng Pakoenegoro alias Candra Malik, menjelaskan bahwa Tim Lima dibentuk untuk merangkul semua pihak di internal keraton.

Ia memastikan bahwa mendiang PB XIII telah dilibatkan dalam proses revitalisasi.

“Kami pasti tentu akan melakukan semua upaya untuk menghubungi semua pihak karena kami sebagai penengah kami diminta oleh negara untuk merangkul semua pihak,” kata Candra.

Candra menambahkan, PB XIII bahkan sempat mengirim utusan untuk mewakilinya dalam beberapa pertemuan Tim Lima karena kondisi kesehatan.

Tim Lima sendiri beranggotakan KGPA PA Tedjowulan, SISKS Pakubuwono XIII (Alm), GKR Wandansari alias Gusti Moeng, BRAy Hanantowiyah mewakili Trah PB XI, dan KRAy Krisnina Maharani Akbar Tanjung.

Pekerjaan fisik revitalisasi Keraton Surakarta telah berjalan sejak pertengahan 2025, dengan fokus pada Panggung Sanggabuwana dan penataan Museum Keraton Surakarta.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *