Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengeluarkan perintah eksekutif pada Selasa (16/9/2025) untuk memperpanjang tenggat waktu pelarangan TikTok selama tiga bulan ke depan. Langkah ini diambil untuk mencegah aplikasi video pendek itu berhenti beroperasi pada Rabu (17/9/2025).
Perpanjangan ini dilakukan setelah pemerintahan Trump mengklaim mencapai kesepakatan dengan Beijing agar TikTok tetap beroperasi di AS dalam jangka panjang. Kesepakatan tersebut kemungkinan akan terwujud melalui penjualan aset TikTok di AS kepada kelompok investor yang didukung Amerika.
TikTok, platform berbagi video pendek populer, dimiliki oleh ByteDance, perusahaan teknologi asal China.
Trump sejak lama mendesak pengalihan aset TikTok di AS ke investor Amerika. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa ancaman penutupan TikTok menjadi titik balik dalam negosiasi.
“Yang mengubah gelombang adalah panggilan yang Duta Besar (Jamieson) Greer dan saya lakukan dengan Presiden Trump pada malam setelah hari pertama negosiasi, dan Presiden Trump menjelaskan bahwa dia bersedia membiarkan TikTok menjadi gelap,” ujarnya kepada CNBC.
Ancaman tersebut membuat China bersedia menyetujui kesepakatan setelah berulang kali menolak. Menurut Bessent, syarat-syarat komersial sebenarnya sudah disusun sejak Maret, namun tertunda akibat kebijakan tarif Trump.
Washington menegaskan tidak akan berkompromi soal keamanan dalam kesepakatan ini.
“Kami tidak bersedia mengorbankan keamanan nasional demi kesepakatan ini. Jadi kami berhasil mencapai serangkaian kesepakatan, sebagian besar untuk hal-hal yang tidak akan kami lakukan di masa depan yang tidak akan berdampak pada keamanan nasional,” ujar Bessent.
Kesepakatan awal mencakup masuknya investor baru bersama dengan investor lama ByteDance. Targetnya, kesepakatan ini rampung dalam 30-45 hari mendatang. Oracle akan tetap memegang kontrak layanan cloud TikTok sebagai bagian dari perjanjian.
Trump memberi batas waktu hingga 16 Desember bagi ByteDance untuk melepaskan kepemilikan TikTok di AS. Jika gagal, aplikasi itu akan dilarang beroperasi di Amerika dengan alasan keamanan nasional. Rencana tersebut akan memangkas kepemilikan ByteDance hingga di bawah 20 persen dan menutup akses Partai Komunis China terhadap data pengguna di AS.
Kongres AS juga akan mengawasi jalannya kesepakatan. Beberapa anggota Kongres yang vokal mengkritik China berjanji akan memastikan aturan keamanan nasional tetap ditegakkan tanpa kompromi.
Kesepakatan ini juga membuka peluang pertemuan Trump dengan Presiden China, Xi Jinping.
Bessent menyebut hasil yang dicapai tidak lepas dari peran Trump dan bisa menjadi momentum memperkuat hubungan Washington dan Beijing di tengah isu dagang dan teknologi yang kerap memanas.







