Berita

Mahasiswa Amikom Yogyakarta Tewas Usai Demo, Luka Lebam Jadi Sorotan

87
×

Mahasiswa Amikom Yogyakarta Tewas Usai Demo, Luka Lebam Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
mahasiswa-amikom-tewas,-rektor-investigasi-terkait-demo-di-polda-diy
mahasiswa amikom tewas, rektor investigasi terkait demo di polda diy

Yogyakarta – Seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama, ditemukan meninggal dunia dengan luka di tubuh dan kepala pada Minggu (31/8). Kematiannya diduga terkait aksi unjuk rasa di depan Mapolda DIY.

Pihak kampus dan keluarga mendesak polisi untuk mengusut tuntas kasus ini.

Ayah korban, Yoyon Surono, menemukan sejumlah luka mencurigakan saat memandikan jenazah Rheza. Luka tersebut antara lain patah di leher kiri, jejak sepatu di perut, serta luka lecet dan sayatan di tubuh.

“Tadi ikut mandiin, sini (menunjuk leher kiri) itu kayak patah apa gimana, terus sini (menunjuk bagian perut kanan) itu bekas pijakan kaki-kaki bekas PDL sepatu,” ujar Yoyon dengan nada bergetar.

Ketua BEM Amikom, Alvito Afriansyah, menyatakan Rheza diduga mengikuti aksi di sekitar Mapolda DIY pada Sabtu malam dan Minggu pagi. Pihaknya akan melakukan investigasi internal.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan seseorang yang diduga Rheza mengendarai motor saat aksi. Alvito meyakini kuat bahwa itu adalah Rheza berdasarkan jenis motor dan keterangan teman sekelas.

Sementara itu, Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, menyatakan Mapolda DIY diserang pada Sabtu hingga Minggu pagi oleh sekitar 50 orang tidak dikenal. Mereka melempari petugas dengan batu, petasan, dan bom molotov.

Ihsan mengklaim puluhan pelaku penyerangan, termasuk anak-anak, telah diamankan. Beberapa di antaranya positif menggunakan narkoba. Enam orang dilaporkan menjadi korban, termasuk seorang anggota Polri.

Wakil Rektor 3 Amikom, Ahmad Fauzi, berharap pihak kepolisian dapat memberikan informasi lengkap terkait peristiwa yang menimpa Rheza. Jenazah Rheza sendiri telah dimakamkan di Sleman. Sebelumnya, jenazah sempat dibawa ke RSUP Dr. Sardjito. Keluarga memutuskan untuk tidak melakukan otopsi.