Berita

Cacingan Akut Renggut Nyawa Anak: Pakar Kesehatan Angkat Bicara

138
×

Cacingan Akut Renggut Nyawa Anak: Pakar Kesehatan Angkat Bicara

Sebarkan artikel ini
6dc214ca4383d11da5b0e79b382a9c5f.jpg
6dc214ca4383d11da5b0e79b382a9c5f.jpg

Sukabumi – Seorang balita di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia akibat menderita cacingan akut. Peristiwa tragis ini, yang mengundang perhatian publik, terjadi pada balita yang diketahui tinggal bersama ibunya dengan gangguan jiwa dan ayahnya yang menderita sakit paru-paru (TBC).

Merespons kasus tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut menanggapi. Pakar kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, menekankan pentingnya memahami persoalan infeksi cacing atau cacingan secara ilmiah sekaligus menyiapkan langkah nyata agar kasus serupa tidak terulang.

Tjandra Yoga Aditama, yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian anak tersebut. Menurutnya, analisis klinis resmi dari rumah sakit perlu ditunggu demi memastikan fakta medis tidak tercampur spekulasi. “Untuk analisa bagaimana keadaan klinik sebenarnya serta apa penyebab kematian maka kita perlu menunggu penjelasan resmi dari pihak rumah sakit,” ujarnya dalam pernyataan tertulis pada Rabu, 20 Agustus 2025.

Meskipun demikian, Tjandra mendesak tindakan cepat di sekitar pemukiman korban. Pemeriksaan lingkungan sangat penting untuk memastikan tidak ada kontaminasi tanah atau sumber penularan cacing lain yang membahayakan anak-anak di sekitarnya.

Ia menjelaskan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), cacingan disebabkan oleh berbagai jenis parasit seperti Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), hingga cacing tambang Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Penularannya terjadi melalui tanah atau air yang terkontaminasi tinja mengandung telur cacing.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan, terang Tjandra, karena sering bermain di tanah tanpa perlindungan dan tidak selalu mencuci tangan. “Anak yang terinfeksi biasanya mereka dengan kondisi gizi kurang baik,” kata Tjandra. Oleh karena itu, perbaikan nutrisi harus menjadi bagian dari strategi pencegahan.

Lebih lanjut, Tjandra menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam pengendalian kecacingan. WHO merekomendasikan empat langkah: pemberian obat cacing secara berkala, penyuluhan kesehatan, perbaikan sanitasi lingkungan, serta akses pada obat-obatan yang aman dan efektif untuk pasien yang sudah terinfeksi.

WHO juga menargetkan dunia dapat menekan signifikan angka kecacingan atau soil-transmitted helminth pada tahun 2030. Tjandra menilai Indonesia perlu memiliki target serupa. “Apalagi kalau kita akan menyongsong Indonesia Emas 2045, tentu tidak elok kalau masalah kecacingan masih terjadi di masa itu,” pungkas Direktur Pascasarjana Universitas YARSI ini.