Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan ekskavasi arkeologi di Situs Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah dan Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
“Ekskavasi difokuskan di Bumiayu untuk arkeologi prasejarah dan sejarah, sedangkan di Bongal untuk arkeologi maritim,” ungkap Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko.
Ekskavasi ini dirancang untuk melestarikan peninggalan nenek moyang sekaligus mengedukasi dan membentuk generasi muda arkeolog Indonesia.
“Dengan hanya enam kampus di Indonesia yang memiliki jurusan arkeologi, tujuan jangka panjang kami adalah mengembangkan jurusan ini di berbagai perguruan tinggi,” jelas Handoko.
Menurut Handoko, kekayaan peninggalan Indonesia menjadi bukti autentik budaya Nusantara dan dunia. “Sejarah dan peradaban adalah pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
BRIN bertanggung jawab atas eksplorasi dan ekskavasi peninggalan sejarah dan prasejarah Indonesia, sementara Kemendikbudristek menangani penemuan yang memiliki nilai kebudayaan strategis.
“Kolaborasi dengan Griffith University dan Southern Cross University, Australia baru-baru ini menghasilkan penemuan lukisan gua tertua di Indonesia, berusia 51.200 tahun,” kata Handoko.
Handoko berharap temuan ini menginspirasi kaum muda menjadi arkeolog Indonesia. “Ini akan membuat mereka merasa bangga menjadi orang Indonesia,” pungkasnya.













